Rabu, 28 Oktober 2009

Hope...

Cloudy sky
Doesn't mean that my heart go grey also
'Coz there is a hope
For better future
For better life

And when everything goes wrong
I know that He will guide me to the right path

Allah is the almighty
And He stay right beside me
Always...

Selasa, 20 Oktober 2009

Biru

Kenapa terasa ini sebagai beban?

Kenapa rasa sepi menghampiri?

Baru kucoba untuk melangkah pergi…

Terlihat dia berdiri di sana

Menjulang tegak bak batu karang

Seperti apa adanya dia,

Keras, kokoh dan tak tertembus

Entah berapa kali bilur kesakitan kurasakan

Tatkala mencoba menggapainya

Karena itulah dia…

Ada tapi tak teraih, dekat tapi tak terengkuh

Dan masih sakit ini masih kurasa

Tatkala kucoba untuk melangkahkan kaki

Menjauh darinya…

Sementara asa di depan

Terlihat sama-samar

Muncul dari sebuah horizon di ujung cakrawala

Semakin gamang yang kurasakan….

Selasa, 14 Juli 2009

Big Gift




I just received a big gift from my cousin last Sunday. They were several books to improve my English. It was a big gift because those books were so thick. It also a big gift ‘coz it consist of things I really need. Thanks a lot Mas Agus!
My cousin finished his 3 moths English course due to achieve his scholarship. And he will continue to his 11 moths France course. When everything is completely he will go to France to reach his master degree.
Even I and he often involved in debate (we often involved in discussion in various aspects), and we don’t always have same opinion. I and he always fight to defend ours). I am chosen as his heiress, I am so proud of this (LOL, the truth is his wife didn’t wanna bring all the books to Palu. She said it was too heavy because she had to go back to Palu only with her 6-years-old-daughter. My cousin will go to Jakarta to continue his course).
I do so happy to receive this gift. I wanna improve my English, but ‘till now I haven’t find a proper English Course in my little town. So learn by myself so far. Those books would be helpful for me at this moment.
But one thing, those thick books make me feel slack. Oh no, that was so bad…
It always be a problem to me to start reading non-fiction books. Different from fiction books -especially good novels- I don’t need so many times to finish reading them.
Oh I have to fix up this habit from now on
I have a big homework... But first I will finish Dan Brown's Novel "Angel and Demon" then I will do my homework...


Jumat, 12 Juni 2009

Mimpi Saya...


Ini adalah penerbangan pertama saya.
Biasanya saya jarang menggunakan fasilitas transportasi umum jika hendak bepergian. Sopir yang terburu-buru bisa membahayakan saya, mereka tidak memberi saya cukup waktu untuk saya menaiki dan menuruni kendaraan. Selain itu kondisi fisik kendaraan umum dan fasilitas bangunan fisik pendukungnya (terminal, pintu masuk kendaraan, jalan, dll) kerapkali membuat saya kesulitan.
Karenanya saya lebih sering menggunakan kendaraan pribadi, becak atau taksi ketika harus bepergian. Hal ini juga membuat kesulitan baru, karena selain ongkos yang dibayarkan menjadi lebih tinggi, keterbatasan juga ditemui ketika perjalanan yang harus saya tempuh cukup jauh. Yang tidak lagi terjangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi, becak atau taksi lagi.
Biasanya paling tidak ada salah seorang teman atau keluarga yang mendampingi saya untuk memastikan keamanan saya. Ketika bepergian saya selalu mencemaskan bagaimana ketika naik dan turun kendaraan, berharap pengemudi atau crew kendaraan tersebut cukup sabar dan mau memperhatikan kebutuhan saya.
Namun keadaan berbeda saya temui ketika mengakses layanan penerbangan. Layanan yang notabene milik kelas middle-up. Saya terbang dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan jadwal penerbangan pagi.
Tiba di terminal III Bandara Soekarno Hatta, saya mengamati bahwa kondisi fisik bangunan mudah untuk saya akses. Di samping tangga ada ramp (meskipun masih bisa mengaksesnya saya mengalami kesulitan naik/turun anak tangga yang rata-rata memiliki tinggi 20 cm, ini terlalu tinggi bagi saya). Keberadaan ramp memudahkan saya, meski saya tidak memakai kursi roda dalam keseharian.
Dari awal saya sudah menanyakan pada petugas bandara tentang fasilitas kursi roda. Luasnya area bandara serta naik turun lantai membuat saya kecapekan kalau harus berjalan kaki. Dan tanggapan petugas cukup baik, mereka langsung menyatakan akan menyediakan kursi roda.
Dan dalam waktu beberapa menit seorang petugas datang membawa kursi roda untuk saya. Petugas tersebut juga menawarkan untuk mendorong kursi roda itu untuk saya. Jadi ibu saya yang saat itu mendampingi saya tidak perlu dibuat kerepotan lagi karenanya. Biasanya orang yang mendampingi saya akan dibuat kerepotan, karena selain harus mengurus barang bawaan yang kami bawa, dia juga harus mengurus saya.
Petugas yang mendorong kursi roda untuk saya tersebut dengan sabar menjelaskan proses-proses yang harus kami lalui dan menjawab pertanyaan saya tentang fasilitas yang diperoleh difabel di bandara ini. Dia mengantarkan kursi roda saya sampai di depan pesawat dan memastikan saya sampai di tempat duduk saya di pesawat. Saya dan Ibu adalah penumpang pertama yang menaiki pesawat, hmm rupanya manula dan difabel masuk pesawat paling awal dan turun paling akhir. Sebuah prosedur yang memudahkan bagi saya.
Ketika hendak turun, pramugari meminta saya untuk turun paling akhir sembari menunggu kursi roda yang telah dia pesankan untuk saya di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta itu. Benar saja, ketika saya melewati pintu saya melihat seorang petugas bandara telah menunggu saya di bawah dengan sebuah kursi roda. Petugas itu bahkan membantu saya menuruni tangga pesawat.
Area Bandara Adi Sucipto sebenarnya tidak terlalu luas, tidak seluas Bandara Soekarno Hatta. Jadi saya masih bisa berjalan kaki, namun tidak ada salahnya saya menikmati pelayanan yang telah disediakan untuk saya.
Ini untuk pertama kali saya menikmati bepergian menggunakan fasilitas umum tanpa harus dihantui rasa takut dan khawatir. Saya bisa menikmati perjalanan dengan nyaman, begitu juga dengan orang yang mendampingi saya. Bahkan saya merasa percaya diri suatu saat saya bisa pergi sendirian, tanpa harus ada teman/keluarga yang mendamping saya.
Namun di balik kenyamanan fasilitas yang saya dapatkan terbersit sebuah kegetiran yang saya rasakan. Semua fasilitas ini hanya bisa dinikmati oleh difabel yang punya uang. Lantas bagaimana dengan mayoritas difabel di Indonesia yang hidupnya masih berada di ambang kemiskinan?
Tentunya mereka masih berkutat dengan sopir yang dikejar waktu tanpa mempedulikan keselamatan penumpang, terminal/stasiun yang hiruk pikuk dengan desain bangunan yang sama sekali tidak bersahabat dengan difabel, petugas-petugas yang belum memiliki kepedulian akan hak-hak difabel (kalaupun ada masih sangat tergantung pada kepedulian di tingkat personal).
Atau bahkan lebih buruk lagi, ada sebagian difabel yang masih terkungkung dalam dunia sempitnya. Dikucilkan karena masih dianggap beban dan aib, sehingga bagi mereka dunia hanya seluas rumah mereka, kampung mereka ataupun kota mereka.
Dan saya bermimpi....
Pada suatu saat nanti, layanan publik yang aksesibel terhadap kebutuhan difabel ini tersebar dimana-mana. Bukan hanya milik kaum middle-up saja. Dan pemenuhan akan hak-hak difabel merupakan sebuah standar pelayanan, bukan hanya dalam bentuk pelayanan standar internasional saja. Kesadaran itu terbentuk secara luas dan bukan hanya terbatas di tingkat personal saja. Dan difabel bisa menikmati layanan publik sama nyamannya dengan orang yang bukan difabel.
Kapan itu????

Kamis, 23 April 2009

When I Saw The Rainbow

I see the rainbow over the sky
God it’s so beutifull
I don’t even realized before
Before you came into my life and coloring it,
And makes the sun shine brighter than yesterday
I never wanna lose all new things I had
I’m thankfull ‘coz I have you by my side….

Rabu, 08 April 2009

Pasar Tradisional dan Mall

Saat ini bukan hanya di daerah urban saja mall tumbuh namun juga telah merambah hingga ke digantikan oleh daerah rural. Semakin menjamurnya mall tak pelak telah mengancam keberadaan pasar tradisional. Meski telah timbul friksi akibat pendirian mall di beberapa daerah rural ditentang oleh pedagang pasar tradisional penyebaran mall tidak bisa dibendung.Mall terus berkembang karena penerimaan masyarakat sangat baik. Ada beberapa alasan mendasar mengapa masyarakat lebih memilih berbelanja di mall ketimbang di pasar tradisional. Mall yang dilengkapi beragam fasilitas yang memberikan kenyamanan sama sekali bertolak belakang dengan pasar tradisional yang panas dan becek. Keterbatasan dana yang ada membuat pengelola pasar tidak bisa memberikan fasilitas seperti mall.Perubahan gaya hidup masyarakat juga telah memberi andil dalam membuat keberadaan pasar tradisional semakin terjepit. Label gaya hidup modern yang dilekatkan pada mall membuat masyarakat beralih belanja di mall. Selain itu asumsi bahwa barang yang dijual di mall lebih berkualitas dibanding barang yang dijual di pasar tradisional kian memperburuk keadaan. Padahal sebenarnya pasar tradisional juga menyediakan barang berkualitas pembeli hanya dituntut untuk pandai memilih. Pembeli yang pandai memilih barang dagangan di pasar tradisional acapkali malah mendapatkan barang yang sama kualitasnya dengan yang di mall namun dengan harga yang lebih murah.Di tengah gencarnya gempuran mall, pembangunan pasar tradisional justru semakin memperburuk keadaan pasar tradisional itu sendiri. Pembangunan pasar tradisional yang biasanya dilakukan oleh pemerintah daerah tidak melibatkan stakeholder sepenuhnya. Bangunan pasar baru biasanya kurang mengakomodir kebutuhan real sehingga bukan membuat pasar tradisional semakin eksis malah makin terpuruk.Dengan kondisi seperti sekarang ini bukan tidak mungkin suatu saat nanti pasar tradisional tidak bisa ditemui lagi. Mungkin suatu saat kita akan merindukan interaksi hangat antara penjual dan pembeli di pasar tradisional yang digantikan oleh interaksi hambar penjaga mall dan mesin penghitung. Tidak ada lagi seni tawar menawar, tidak ada lagi tumpukan bahan mentah segar berganti dengan makanan kemasan dan bahan mentah yang ada di mesin pendingin. Apakah hal seperti ini yang kita inginkan?

Published in Otoritas Daerah, March 2009

Stttt!!!

I hold my ‘Ophink’so tight
I love to feel its gentle feather
It makes me feel so close to you

Again……. It happens again
I always do it whenever I feel it
I can share it to no one
Ghezz……. It is not something to be shared for
It is nothing to be wrote too
I am speechless, my mouth is locked
‘Coz it is greater than thousands words
It just something to be felt

My only one……. Oohhh I miss you so much!