Rabu, 21 April 2010

Selamat Hari Kartini bagi Perempuan-Perempuan Cantik


Hari ini tepat pada tanggal 21 April dimana segenap bangsa Indonesia merayakan hari Kartini saya mendapatkan sebuah pesan yang sangat cantik dari teman saya yang cantik

Wanita cantik :

♥Melukis kekuatan melalui proses kehidupan
♥Bersabar saat tertekan
♥Tersenyum di saat hati menangis
♥Diam saat terhina (maaf, khusus poin ini saya tidak sepakat –red)
♥Mempesona krn memaafkan
♥Mengasihi tanpa pamrih
♥Bertambah kuat di dlm doa & pengharapan

Di kirim khusus utk setiap wanita cantik ...
Kirim ke smua wanita yg menurutmu cantik ...

Mnurutku kamu cantik. Selamat hari Kartini.......


Pesan yang sangat indah, mengingatkan seriap perempuan bahwa mereka cantik. Ya, saya percaya bahwa perempuan dilahirkan untuk menjadi cantik
Namun hal yang seringkali terjadi adalah banyak perempuan yang menganggap diri mereka tidak cantik. Ini karena sedari awal mereka telah salah kaprah meyakini standar-standar kecantikan yang absurd. Pemahaman yang salah tersebut menyebabkan mereka menisbikan bentuk-bentuk kecantikan yang sebenarnya telah melekat pada dirinya. Dan berlomba-lomba mendapatkan bentuk-bentuk kecantikan yang diyakini ‘benar’ dengan berbagai konsekuensi yang harus mereka tanggung.
Konteks kecantikan yang diartikan secara sempit dan digeneralisasikan demi kepentingan-kepentingan kapitalisme telah membunuh sekian banyak harapan perempuan menjadi cantik.
Kecantikan tidak bisa secara kaku diterjemahkan sebagai kulit putih bersih, hidung mancung, rambut lurus, badan langsing, dan lain sebagainya.
Telah banyak korban timbul akibat pemahaman yang salah ini; kulit melepuh akibat penggunaan bahan pemutih, terpaksa dirawat di rumah sakit akibat pola-pola diet, kanker kulit karena suntik silicon, bahkan ada yang berujung kematian akibat ingin mendapatkan label ‘cantik’. Rasanya miris setiap kali kita membaca beritaiberita semaca ini di media massa.
Padahal yang ada nilai kecantikan itu berlaku sangat luas dan beragam. Tidak percaya???
Coba tuliskan sederet standar kecantikan yang bisa nada temukan (saya bisa menemukan puluhan, bahkan ratusan deret saat ini, dan otak saya masih bisa diajak berfikir untuk menemukan lagi…), kemudian cari dari deret tersebut berapa yang telah anda miliki. Tentu anda memiliki…. Karena anda adalah perempuan yang cantik! Saya yakinkan anda adalah perempuan yang cantik!!

Jumat, 22 Januari 2010

MDGs and Their Relationship to Disability

650 million people live with disabilities. Unless such huge numbers of people are part of development policies and programmes, it will be impossible to attain any of the Millennium Development Goals

MDG1: Eradicate Extreme Poverty and Hunger

Extreme poverty among families with a family member with a disability may limit the amount and quality of food for them and their families. In house holds with limited resources it is often the woman or girl child with disabilities who is often the last fed or fed.

MDG2: Achieve Universal Primary Education

Poverty and prejudice bar families and communities from educating the girl child with disabilities. Where resources are scarce, the girl child with disabilities is often deprived of even a basic education.

MDG3: Promote Gender Equality and Empower Women

Women with disabilities face extreme discrimination compared to not only a person without disabilities but often from men with disabilities and often less preferred in programmes.

MDG4: Reduce Child Mortality

Infanticide or the deliberate killing of infants with disabilities, especially girls with disabilities, is a huge problem in certain countries.

MDG5: Improve Maternal Health

There is very little information or services available for women with disabilities on maternal health or pregnancy-related information. Women with disabilities also have little access to maternal health related information and care.

MDG6: Combat HIV/AIDS, Malaria and Other Diseases

A disproportionate percentage of women with disabilities who became HIV positive tend to be unable to access proper clinical care.

MDG7: Ensure Environmental Sustainability

Deteriorating environments can have a significant and disproportionate impact on women with disabilities, especially pregnant women with disabilities, and this can be a cause disability.

MDG8: Develop a Global Partnerships for Development

Of the approximately 650 million persons with disabilities world wide, an estimated 80 percent live in developing countries. International partnerships are key to any sustainable development programme.

(taken from: Disability Rights, Gender and Development A Resource Tool For Action)


Jumat, 15 Januari 2010

DUH PELITNYA SAYA


Ada 2 kelompok orang yang membuat saya pelit mengeluarkan uang. Kelompok pertama adalah para peminta sumbangan dan kelompok kedua adalah pengamen. Seringnya meski saya mengeluarkan uang untuk 2 kelompok tersebut namun jumlahnya sangat sedikit. Itupun tidak diiringi keikhlasan yang mendalam. Duh betapa pelitnya saya…

Bagi saya orang yang meminta sumbangan sama dengan mengemis. Yang paling membuat saya makin tidak suka adalah ketika mereka memakai simbol-simbol keagamaaan dan difabel sebagai dalih dalam meminta sumbangan. Puih, kalau memang belum cukup dana ya jangan mendirikan atau membangun tempat ibadah. Tunggu sampai dananya cukup dulu, bukan dengan meminta dari pintu ke pintu, apalagi menyodorkan kotak di pinggir jalan dan perempatan.

Apalagi meminta sumbangan dengan alasan kedifabelan, itu membuat saya sebal. Emang difabel itu identik dengan rasa kasihan apa! Difabel bukan alasan untuk menjadi obyek belas kasian dan iba.

Hemat saya menyumbang ya di posko penerima sumbangan yang sudah disediakan. Kita pergi kesana karena memang berniat untuk menyumbang, bukan Karena ada paksaan, karena ada orang yang memintai. Dan lebih jelas arah uang itu kemana.

Kelompok kedua yang membuat saya pelit adalah pengamen. Pengamen bagi saya tidak jauh berbeda juga dengan pengemis. Karena biasanya mereka menyanyi dengan nada yang jauh dari enak didengar di kuping. Mending dengerin mp3 saja. Selain itu ada beberapa pengamen yang bersikap tidak menyenangkan ketika orang tidak mau meberikan uang. Huh sudah minta maksa lagi….

Namun ada beberapa perkecualian jenis pengamen yang membuat saya mengacungkan jempol dan membuat kepelitan saya menghilang. Di Boyolali, ada banyak warung soto bertebaran. Meski demikian warung-warung soto tersebut nyaris tidak pernah sepi sendiri. Hmm, jelas soto telah menjadi menu andalan kuliner Boyolali.

Yang menarik adalah di bagian depan warung-warung soto tersebut biasanya terdapat sekelompok pengamen. Biasanya mereka duduk di sebelah pintu masuk warung. Grup yang terdiri dari 4-7 orang tersebut mengusung jenis musik campursari. Meskipun jenis musik tersebut bukan merupakan jenis musik yang yang saya gemari namun saya memberikan apresiasi positif bagi mereka.

Penampilan mereka yang sopan dan ramah, tetap memainkan lagu tanpa peduli apakan pengunjung memberikan uang atau tidak, serta memperlihatkan kualitas musik yan cukup memadai (tidak sekedar genjrang-genjreng tak enak didengarkan) membuat saya tidak sayang mengisi kotak mereka (biasanya mereka menempatka sejenis wadah plastic yang biasanya digunakan sebagai tempat nasi di depan mereka sebagai tempat pengunjung memberika uang). Dan nampaknya bukan saya saja yang berfikir begitu, karena bila dilihat dal;am wadah plastic tersebut isinya kebanyakan bukan berupa recehan koin seperti pada pengamen lain, tapi lebih didominasi oleh uang kertas.

Pengamen lain yang menarik bagi saya biasanya duduk di depan warung bakso kesukaan saya. Pengamen tersebut hanya menggunakan alat musik siter. Siter adalah alat musik tradisional Jawa yang dimainkan dengan cara dipetik. Belakangan pemain siter mulai langka.

1 lagi pengamen yang membuat saya memberi apresiasi baik adalah pemain biola yang dulu sering berkeliling di daerah kost saya di Jogja. Saya adalah seorang penikmat musik yang dihasilkan oleh biola tersebut. Pria paruh baya tersebut memainkan biolanya dengan bagus. Temen kost saya yang kebetulan juga seorang penyuka biola bahkan rela mengejar pemain biola tersebut, dan memanggilnya untuk bermain biola di depan kami. Hmm, kami sangat menikmati pertunjukan yang bagus tersebut.

Jadi rasanya untuk 3 pengamen yang saya sebutkan di atas, kepelitan saya hilang sudah. Leganya…

Rabu, 16 Desember 2009

MARI DUKUNG RATIFIKASI KONVENSI HAK DIFABEL

Secara internasional hak-hak difabel telah diakui. Hal itu terlihat dari adanya Convention on the Rights of Disabled People (CRPD) atau Konvensi Hak Difabel. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 13 Desember 2006 menyepakati konvensi untuk melindungi hak 650 juta difabel sedunia dengan resolusi No. 61/106. Konvensi itu melarang pembatasan difabel dari hak pendidikan, pekerjaan, dan politik. Tercatat ada 143 negara yang telah menandatangani konvensi tersebut dan Indonesia telah menandatangani konvensi pada tanggal 30 Maret 2008.

Sesuai dengan UU No.24 Tahun 2000 tentang perjanjian Internasional, maka sebuah konvensi akan menjadi hukum nasional apabila telah diratifikasi. Ratifikasi adalah pengesahan sebuah Konvensi menjadi undang-undang. Tidak ada batas waktu berapa lama negara diharuskan meratifikasi sebuah konvensi sejak penandatanganan. Oleh karena itu dukungan semua pihak diperlukan supaya Konvensi Hak difabel ini bisa segera diratifikasi.

Kekurangseriusan

Keikutsertaan Indonesia dalam pendandatanganan Konvensi Hak Difabel menunjukkan komitmen kuat bangsa Indonesia dalam memajukan hak-hak difabel. Meski demikian pada kenyataan kesungguhan bangsa ini dalam melaksanakannya masih jauh dari harapan.

Sampai saat ini jutaan difabel di Indonesia masih bergelut dengan berbagai perlakukan diskriminatif. Sebagian besar dari mereka masih mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Beberapa kesulitan yang kerap terjadi diantaranya adalah: penolakan difabel untuk memasuki sekolah umum, minimnya fasilitas publik yang memperhatikan kebutuhan difabel, sempitnya akses lapangan pekerjaan, kurangnya dukungan pemerintah terhadap pengiriman atlit difabel ke tingkat dunia, juga kungkungan stigma-stigma difabel. Stigma yang masih melekat adalah berbagai anggapan bahwa kaum difabel itu lemah, aib, sakit dan menjadi beban bagi orang lain

KOMNAS HAM dalam hasil penelitiannya tahun 2006 tentang monitoring pemahaman hak-hak penyandang cacat di 9 daerah di Indonesia (Sulawesi Selatan, Kepulauan Riau, NTT, Banten, Sumatera Selatan, Riau Daratan, Jawa Timur, Yogyakarta, Jambi), telah menemukan bahwa secara umum pemenuhan hak-hak penyandang cacat oleh negara atau pemerintah masih belum maksimal, utamanya karena masih minimnya pengetahuan dan pemahaman mengenai hak-hak difabel (Naskah Akademis Komnas HAM Tahun 2007)

Beragam perlakuan diskriminatif dan stigmatisasi difabel ini terjadi dalam berbagai tataran dari keluarga hingga pada masyarakat luas. Faktor yang menyebabkan hal ini ada 2 macam. Pertama rendahnya kesadaran masyarakat dan tidak adanya rumusan yang jelas tentang jaminan dan mekanisme perlindungan serta pemenuhan hak difabel. Ini terlihat dari lemahnya implementasi berbagai perundangan yang menjamin pemenuhan hak difabel. Kedua adalah rendahnya kesadaran difabel itu sendiri. Pada umumnya difabel tidak sadar bahwa mereka memiliki hak asasi, pada umumnya mereka menganggap berbagai perlakuan diskriminatif dan stigma yang ditujukan bagi mereka adalah hal yang wajar. Kurangnya sosialisasi akan hak-hak yang dimiliki oleh difabel menjadi penyebab utama mengapa hal ini bisa terjadi.

International Disabled Day

Kondisi memprihatinkan yang masih dialami oleh sebagian besar difabel di Indonesia di atas menyebabkan diratifikasinya Konvensi Hak Difabel menjadi sebuah kebutuhan mutlak. Dan ini perlu didesakkan dengan segera, sehingga mampu mengatasi berbagai persoalan difabel dan mengangkat mereka dari keterpurukan.

Meskipun secara umum, seluruh konvensi yang berkaitan dengan hak asasi manusia dapat digunakan sebagai landasan perlindungan hak-hak difabel, namun tidak satupun dari konvensi-konvensi tersebut menyebut masyarakat difabel secara eksplisit. Oleh karena itu Konvensi ini merupakan instrumen hukum pertama yang mengikat dan berisi perlindungan yang komprehensif terhadap hak-hak difabel.

Bertepatan dengan peringatan International Disabled Day jatuh pada tanggal 3 Desember tahun ini Committee on the Rights for Persons with Disabilities (CRPD) mencanangkan Week long program of celebrations of the International Day of Persons with Disabilities. Program yang berlangsung pada tanggal 3-9 Desember 2009 bertemakan pemberdayaan difabel melaui hak untuk malakukan tindakan (http://www.ohchr.org)

Mulai tanggal 3 Desember 2009 hingga seminggu kemudian seluruh dunia akan memberikan pengakuan, memberikan dukungan serta meningkatkan kesadaran terhadap difabel. Pada peringatan itu juga diharapkan adanya pembaharuan komitmen dalam meratifikasi dan implementasi sepenuhnya terhadap Konvensi Hak Difabel.

Dalam kesempatan tersebut, akan menjadi sebuah kado indah bagi difabel apabila Indonesia bisa turut serta di dalamnya. Utamanya adalah dengan meratifikasi Konvensi Hak Difabel yang telah ditandatangani hampir 2 tahun lalu. Implikasinya, setelah konvensi diratifikasi, Pemerintah akan mereformasi peraturan perundangan yang ada sehingga sesuai dengan kewajiban yang diamanahkan dalam Konvensi. Ini berarti difabel di Indonesia bisa memiliki hak sebagaimana yang telah dinikmati difabel di negara lain yang telah meratifikasinya. Ini bisa menjadi bukti keseriusan negara dalam memenuhi hak-hak setiap warga negara termasuk juga hak-hak difabel.

Dukung Ratifikasi Konvensi Hak Difabel!!!

Selasa, 15 Desember 2009

Muse

Over the stars
Over the moon
And over the sun
But why...
We are still excluded???


(dedicated to all persons with disabilities in the whole world, celebrate International Disabled Day, December 3rd 2009)

Rabu, 28 Oktober 2009

Hope...

Cloudy sky
Doesn't mean that my heart go grey also
'Coz there is a hope
For better future
For better life

And when everything goes wrong
I know that He will guide me to the right path

Allah is the almighty
And He stay right beside me
Always...

Selasa, 20 Oktober 2009

Biru

Kenapa terasa ini sebagai beban?

Kenapa rasa sepi menghampiri?

Baru kucoba untuk melangkah pergi…

Terlihat dia berdiri di sana

Menjulang tegak bak batu karang

Seperti apa adanya dia,

Keras, kokoh dan tak tertembus

Entah berapa kali bilur kesakitan kurasakan

Tatkala mencoba menggapainya

Karena itulah dia…

Ada tapi tak teraih, dekat tapi tak terengkuh

Dan masih sakit ini masih kurasa

Tatkala kucoba untuk melangkahkan kaki

Menjauh darinya…

Sementara asa di depan

Terlihat sama-samar

Muncul dari sebuah horizon di ujung cakrawala

Semakin gamang yang kurasakan….