Senin, 18 Maret 2013

PENYANDANG DISABILITAS DIANGGAP SEBAGAI ORANG SAKIT DI BANDARA


Pagi ini saya membaca di wall facebook seorang teman. Dia yang seorang penyandang disabilitas mengeluhkan bahwa untuk kesekian kalinya terpaksa menandatangani surat pernyataan ketika berada di bandara. Dalam keluhannya dia menyatakan bahwa dia merasa diperlakukan seperti orang sakit karena kedifabelannya.
Obrolan berkembang menjadi panjang ketika ternyata banyak rekan-rekan penyandang disabilitas yang mengalami kejadian serupa ketika hendak menaiki pesawat. Bahkan ada yang menyindir karena penyandang disabilitas dianggap sakit maka ketika mereka diberi racun arsenic (seperti yang terjadi pada kasus kematian alm Munir) maka tidak akan ada penyelidikan lebih lanjut.
Hal tersebut sempat membuat saya tertegun. Sama seperti mereka, saya juga pernah mengalami kejadian serupa ketika hendak terbang dari bandara Soetta Jakarta pada pertengahan 2010 lalu.
Waktu itu saya pulang dari mengikuti kegiatan training di Amerika pada bulan Agustus 2010. Di kegiatan tersebut saya mendapatkan sebuah kursi roda berwarna pink yang diberikan secara cuma-cuma untuk saya bawa pulang ke Indonesia. Susan Sygall - CEO MIUSA- dan rekannya Bill Pierce mengusahakan kursi roda yang sesuai dengan ukuran tubuh saya. Susan juga memberikan beberapa tips untuk membawa kursi roda secara aman selama penerbangan, yaitu dengan meminta kru penerbangan menempatkan kursi roda itu bersama saya. Artinya saya selalu memakai kursi roda tersebut dari dan sampai ke pintu pesawat.
Semua berjalan lancar, selama melewati beberapa bandara yaitu di Eugene, San Fransisco dan Hongkong saya sama sekali tidak mendapati masalah. Petugas bandara dan kru pesawat sangat kooperatif dan menghargai kebutuhan penyandang disabilitas seperti saya. Satu-satunya pertanyaan yang mereka sampaikan hanyalah apa saya bisa berjalan dari pintu pesawat ke tempat duduk saya, sebab jika tidak mereka akan menyediakan kursi roda khusus yang disesuaikan dengan ruangan di pesawat.
Masalah baru saya dapati ketika hendak terbang dari Jakarta ke Jogjakarta. Ketika saya check in di Terminal 2 Bandara Soetta, saya disarankan menghubungi help desk untuk mendapatkan wheelchair assistant. Di help desk petugas menanyakan beberapa pertanyaan tentang identitas saya untuk ditulis dalam sebuah berkas. Saya belum pernah mengalami prosedur ini karena biasanya kru pesawat yang menyediakan wheelchair assistant tanpa ada syarat apapun.
Teringat juga pesan rekan saya mbak Mimi Lusli (seorang tuna netra yang juga seorang yang aktif mengkampanyekan hak penyandang disabilitas di Indonesia), dia menyarankan untuk tidak menandatangani surat pernyataan apapun di bandara. Maka saya meminta petugas untuk membaca berkas tersebut sebelum membubuhkan tanda tangan. Setelah membaca  saya menemukan ada beberapa poin dalam berkas tersebut yang membuat saya kehilangan beberapa hak selama penerbangan. Hal itu tentu saja sangat merugikan, saya bukan orang yang berada dalam kondisi tidak boleh terbang dengan alasan kesehatan. Saya menolak menandatangani surat tersebut. Petugas tetap memaksa saya menandatanganinya sehingga saya harus berdebat dengan 2 orang petugas. Awalnya petugas menyatakan surat tersebut hanyalah prosedur untuk membawa kursi roda saya. Ini kali pertama saya membawa kursi roda sendiri, biasanya saya memakai kursi roda yang disediakan kru penerbangan. Namun saya tetap bersikukuh karena yang saya baca tidak ada klausul tersebut di surat tersebut.
Melihat ada keributan, security bandara akhirnya mendekati dan melerai. Security tersebutlah yang akhirnya menyarankan petugas dari help desk untuk tidak memaksa saya menandatangani surat yang tidak mau saya tanda tangani. Mereka akhirnya mengalah, dengan muka masam seorang petugas mendorong kursi roda saya. Saya lega telah berhasil mempertahankan hak saya, namun kelegaan itu hanyak berlangsung sebentar karena saya melihat seorang ibu yang memakai kursi roda tampak membawa surat yang saya tolak untuk tanda tangani.
Saya sangat prihatin, mengapa ketika berada di negara orang mereka menghargai hak-hak saya, sementara ketika berada di negara sendiri justru perlakuan diskriminatif yang saya peroleh. Bukan berarti saya tidak mencintai Indonesia, namun tetap di negara ini ada system yang salah dan itu harus diperbaiki untuk menjadi Indonesia yang lebih baik lagi.

Selasa, 12 Februari 2013

SAYA DAN KURSI RODA


Saya pernah menganggap kursi roda dan saya tidak pernah cocok. Dulu ketika ada orang yang mengusulkan untuk memakai kursi roda saya akan menolak secara terang-terangan. Pasalnya saya merasa masih mampu berjalan dengan baik, meskipun menjadi lebih mudah lelah dibanding kebanyakan orang. Alasan lain adalah saya merasa risih ketika orang memberi perhatian lebih (malu kalau nantinya banyak orang yang memperhatikan) juga keribetan yang terjadi karena mayoritas bangunan dan sarana infrastruktur di Indonesia tidak aksesibel terhadap pemakai kursi roda.
          Oleh karena itu saya lebih nyaman beraktifitas dengan berjalan kaki, meskipun masih terkendala oleh banyak hal. Diantara kendala yang saya hadapi adalah: keluarga atau rekan yang mengantarkan terpaksa mencari tempat parkir tedekat, di beberapa lokasi saya terpaksa lebih banyak duduk dan menunggu karena kecapekan sementara yang lain melanjutkan berjalan.
          Lebih lanjut salah seorang rekan saya penderita polio yang menggunakan kruk pernah mengatakan bahwa kursi roda akan membuat pemakainya malas dan bergantung sehingga nantinya dia tidak akan bisa lepas dari kursi rodanya. Dia bersikeras menggunakan kruk untuk menyangga kakinya dan menolak keras menggunakan kursi roda.
          Hal-hal tersebut membuat saya setengah antipati menggunakan kursi roda.
          Namun kemudian antipati saya berubah menjadi ketertarikan ketika saya bertemu dengan  Alica, seorang pemakai kursi roda yang berasal dari dari Mexico yang juga memiliki keahlian mengutak-atik kursi roda. Saya bertemu dengannya ketika mengikuti sebuah training kepemimpinan bagi perempuan penyadang disabilitas di Amerika pada 2010 lalu. Alicia yang merupakan volunteer dari MIUSA (organisasi yang menyelenggarakan kegiatan training tersebut). Di situ selain sebagai penterjemah bahasa Spanyol Alicia juga menjadi salah satu “dokter” kursi roda.
          Cuaca dingin ditambah kelelahan setelah penerbangan panjang selama 22 jam dan berjam-jam transit membuat kondisi saya drop. Pada hari pertama tinggal bersama host family (keluarga dimana saya tinggal selama mengkuti kegiatan training), saya menyadari bahwa berjalan dari rumah host family ke pemberhentian bus yang hanya berjarak beberapa blok itu terasa sangat melelahkan.
          Ketika saya menemui Alicia dan menceritakan kesulitan tersebut, dia menyarankan pada saya untuk menggunakan kursi roda. Menyadari keengganan saya dia memberikan cara yang lebih persuasive.
          “Kamu di sini mengikuti sebuah kegiatan baru di tempat yang baru. Apakah kamu tidak tertarik untuk mencoba segala hal baru juga?” Katanya menantang saya untuk mencoba.
          Dan ya. Saya sangat tertarik untuk mencobanya. Setidaknya di sini ada beberapa alat bantu yang bisa saya coba pakai dan sejauh mana alat bantu tersebut efektif untuk saya gunakan.
          Alicia dan teman-teman dari MIUSA memiliki banyak rekomendasi alat bantu yang digunakan penyandang disabilitas. Dari MIUSA saya mengetahui ada banyak sekali jenis kursi roda, bukan hanya kursi roda manual dan kursi roda listrik seperti yang sebelumnya saya ketahui.
          Beberapa penderita multiple disabilitas menggunakan kursi roda yang berbeda pula. Saya bertemu dengan seorang penyandang multiple disabilitas yang kursi rodanya dilengkapi sensor khusus yang membuatnya bisa mengoperasikan computer melalui sensor tersebut. Saya juga melihat kursi roda yang dilengkapi sabuk pengaman yang membuat pemakainya yang menderita cerebral palsy bisa duduk dengan nyaman di atasnya.
          Kursi roda berbeda-beda tergantung dari pemakainya. Beberapa staf dan volunteer MIUSA yang menggunakan kursi roda dengan beberapa variasi. Biasanya lengan kursi akan dihilangkan sehingga memudahkan mereka mengayuhnya. Posisi roda juga tidak sejajar namun dibuat agak melengkung. Bahkan beberapa dari mereka yang merupakan atlet penyandang disabilitas memodifikasi kursi rodanya hingga menyerupai kursi balap yang memudahkan mereka bergerak. Dengan kursi roda yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa membuat mereka mengendarai kursi rodanya bak pengendara motor dan mobil yang kerap mengutak-atik tongkrongannya.
          Merupakan sebuah pemandangan biasa melihat para pemakai kursi roda ini  bergerak bebas kesana kemari, bermain basket, bermain tenis dan rangkaian olahraga lain yang mereka kuasai. Mereka sama sekali tidak canggung memakai kursi roda layaknya pemakai kacamata baca untuk membantu mata minus.
          Dalam beberapa kesempatan ketika kami harus berjalan menempuh jarak yang cukup jauh beberapa rekan peserta training akan berbaris seperti lokomotif kereta api. Paling depan adalah dia yang memakai kursi roda listrik, di belakangnya pemakai kursi roda manual akan saling memegang bagian belakang kursi roda rekannya. Dengan cara ini mereka tidak perlu capek-capek mengayuh. Sambil tertawa riang 3 hingga 8 kursi roda akan berjajar mengular.
           Hal tersebut menyadarkan saya bahwa saya harus berdamai dengan kursi roda. Bahwa saya bukan lagi menganggap berkursi roda bukan sekedar asesoris semata, tapi menjadi sebuah kebutuhan. Saya belajar untuk menyadari bahwa tidak perlu malu menggunakan kursi roda karena itu adalah alat bantu yang memang kita butuhkan. Seperti mereka teman-teman saya yang menjadikan kondisi fisik mereka menjadi sebuah penghalang mereka mewujudkan harapan-harapannya. Mark Hansen dan Molly Rogers tetap bisa menjadi seorang atlet tenis handal dengan kursi rodanya, Ruth Achienegh masih bisa bermain basket dengan berkursi roda, Susan Sygall yang pandai menunggang kuda acapkali menyebut dirinya ‘Wheelchair Ryder’ seperti dia menyebut dirinya ‘Horse Ryder’.
          Melihat mereka dengan wajah sumringah, postur badan tegap dan kepercayaan diri mereka bukan lagi sosok lemah dan tampak sakit tatkala harus bertengger di kursi roda. Namun lebih menjadikan kursi roda tersebut sebagai ganti kaki untuk berjalan. Being person with disability doesn’t mean that she/he can’t do such thing, but doing this matter in such different way.
Alicia dan “dokter-dokter” kursi roda lainnya  membuat saya terheran-herang dengan berbagai macam ide yang dimiliki untuk membuat sebuah kursi roda nyaman untuk dikendarai. Dari mereparasi setiap bagian dari kursi hingga menggunakan berbagai macam bahan seperti stereofoam. Satu kata buat mereka “keren!”.
          Saya menerima tantangan Alicia untuk mencoba menggunakan berbagai alat macam alat bantu bagi penyandang disabilitas. Dengan cara tersebut saya mempunyai pengalaman seberapa efektif alat-alat bantu tersebut bisa bermanfaat dan memudahkan saya menjalani berbagai aktifitas.
          Hari itu saya pulang membawa sebuah walker (alat bantu berjalan yang memiliki roda) dengan semacam tempat duduk di tengahnya. Jadi ketika saya capek berjalan, saya bisa menggunakan walker tersebut untuk duduk. Baru sehari saya rasakan alat tersebut tidak cocok untuk saya gunakan karena selain berat, walker tidak mengurangi rasa capek saya menempuh jarak beberapa blok tersebut. Selain itu tempat duduk yang terdapat pada walker tersebut terlalu tinggi sehingga saya merasa kesulitan untuk menaikinya.
          Setelah walker saya kembalikan beberapa hari kemudian Alicia datang pada saya membawa sebuah kursi roda. Sebuah kursi roda yang terbuat dari bahan yang ringan. Kursi roda seperti inilah yang sering saya lihat ada di Indonesia. Kursi roda yang biasanya ada di rumah sakit yang terbuat dari bahan alumunium dengan tempat duduk kanvas dan mudah dilipat.
Dengan meminta maaf Alicia menerangkan bahwa sejauh ini baru kursi roda ini yang bisa dia temukan untuk saya. Kursi roda ini dibuat untuk orang dengan tinggi rata-rata. Sehingga meskipun ini membantu saya tidak kecapekan, saya tidak bisa mengayuh sendiri kursi roda ini. Sehingga saya masih butuh orang lain mendorong kursi roda untuk saya.
          Lebih jauh kursi roda ini juga tidak sesuai bagi saya karena saya tidak bisa mengontrolnya. Saya pernah hampir celaka ketika terjatuh di koridor pemberhentian bus karena kursi roda meluncur di jalanan yang agak miring dan saya tidak mampu menghentikannya. MIUSA tetap berusaha untuk menemukan sebuah kursi roda yang tepat untuk saya, bukan hanya kursi roda yang bisa saya naiki namun kursi roda yang bisa saya kayuh sendiri sehingga saya tidak harus bergantung pada orang lain untuk mendorongnya.
          Selama seminggu, karena masih belum ada kursi roda yang sesuai, untuk  sementara saya masih menggunakan kursi roda tersebut. Hingga Bill Pierce seorang “dokter” kursi roda selain Alicia menemui saya dan menyatakan bahwa dia punya kursi roda yang sesuai dengan saya. Beberapa hari kemudian Bill datang membawa sebuah kursi roda berwarna pink buat saya. Kursi roda anak-anak tersebut terlihat cantik dan kokoh, dengar rangka besi dan sandaran busa. Sayangnya belum mempunyai bantalan yang tepat.
          Istri Bill yang seorang guru TK menemukan sebuah kursi roda anak-anak yang sesuai dengan ukuran tubuh saya. Setelah dilakukan beberapa penyesuaian lagi seperti memasang bantalan duduk, memendekkan sandaran kaki dan beberapa hal lainnya kursi roda tersebut sangat pas untuk saya. Bantalan duduk yang dibuat Bill juga yang disesuaikan dengan ukuran badan saya.
          Selama sekitar 2 minggu saya menggunakan kursi roda ini saya mulai menyadari bahwa alat ini sangat membantu. Alicia menerangkan bahwa kondisi kaki penyandang disabilitas acapkali rentan. Seorang penyandang disabilitas yang sehari-hari menggunakan kruk untuk membantunya berjalan haruslah menyadari bahwa kakinya memiliki keterbatasan kekuatan jadi jangan terlalu diforsir. Bukan berarti mereka harus selalu menggunakan kursi roda alih-alih memakai kruk, namun sesekali mengistirahatkan kaki dengan mengandarai kursi roda sehingga kondisi kaki tidak terlalu terbebani. Jadi sebaiknya mereka memiliki sebuah kursi roda disamping sepasang kruk. Alicia juga memberikan tips bagaimana memasang kruk pada bagian belakang kursi roda. Wah benar-benar tips yang berguna.
          Hal yang membahagiakan adalah ketika Bill mengatakan bahwa saya bisa membawa kursi roda pink ini pulang bersama saya ke Indonesia secara gratis. Wow, ini adalah suatu hal yang menyenangkan bagi saya. Namun ada kesedihan tersendiri ketika menyadari bahwa di Indonesia saya menemui kesulitan memakai kursi roda ini. Kondisi bangunan dan infrastruktur yang mayoritas masih belum aksesibel bagi pemakai kursi roda membuat saya agak ragu membawanya pulang ke Indonesia.
          Namun keraguan tersebut terbantahkan ketika salah seorang rekan saya Nguyen Thi Lan Anh, seorang perempuan yang mengalami glass bone disease (kondisi dimana tulang mudah patah) yang juga ibu dari seorang putra menyarankan saya tetap membawa kursi roda ini. Dia mengatakan bahwa suatu saat ketika saya mengandung, saya akan sangat membutuhkan kursi roda. Meskipun saya bisa berjalan dengan baik, seperti diketahui pada umumnya penyandang disabilitas mudah sekali terjatuh. Dalam keadaan mengandung, jatuh akan sangat berbahaya bagi janin sehingga Anh menyarankan saya memakai kursi roda selama masa kemengandungan.
          Dan di sinilah saya membawa pulang kursi roda pink saya selama penerbangan panjang melintasi benua. Sampai saat ini kursi roda ini masih tetap bersama saya meskipun sangat jarang sekali saya gunakan. Dengan kondisi bangunan dan sarana infrastruktur di Indonesia yang mayoritas tidak askesibel bagi penyandang disabilitas lebih mudah bagi saya berjalan kaki ketimbang berkursi roda. Sehingga kursi roda pink saya yang cantik lebih sering teronggok di sudut ruangan, menunggu sampai waktunya saya mengandung dan memakainya selama 9 bulan penuh. Ya tentu saja saya tidak ingin membahayakan nyawa saya dan calon bayi saya nantinya bukan.
          Kursi roda itu juga masih teronggok di pojok ruangan menunggu suatu saat dimana bangunan dan sarana infrastruktur di Indonesia dibuat aksesibel bagi penyandang disabilitas. Sehingga selayaknya warga negara lain kami juga bisa mengaksesnya dengan nyaman. Saya memiliki mimpi bisa kesana kemari mengendarai kursi roda pink saya yang cantik dengan aman dan nyaman.

Pemenang II lomba karya tulis “Disabilitas, Hukum dan Keadilan”  kategori Khusus dengan tema “Perjuangan dan Eksistensi Disabilitas untuk Mencapai Kemandirian, Kesejahteraan dan Keadilan”

http://solider.or.id

Senin, 14 januari 2013

Selasa, 20 November 2012

A 'lil note


Listen….
Think…
And feel more…
Pity mind was no longer required
Since world is larger then we ever think
So…  Keep our mind open
And let’s learn more…

Senin, 28 Mei 2012

MENIMBA ILMU DARI NEGERI PAMAN SAM (Catatan kegiatan pelatihan kepemimpinan bagi perempuan difabel sedunia-WILD Program)




Selama 23 hari berada di Eugene, Oregon, Amerika Serikat ada bayak manfaat yang dapat saya petik. Bersama dengan 29 perempuan difabel yang berasal dari 29 negara kami berbagi pengalaman serta belajar menganai hal-hal baru dari negara maju seperti Amerika serikat.
Eugene merupakan kota terbesar kedua di negara bagian Oregon setelah Portland. Eugene juga merupakan kota yang aksesibel bagi difabel. Semua jenis bangunan dan fasilitas umun di kota tersebut memperhatikan kebutuhan difabel dan kelompom rentan. Hal tersebut terlihat diantaranya adalah: tempat parkir khusus difabel di tempat parkir umum, setiap trotoar pasti memiliki ramp, setiap bangunan bertingkat dilengkapi dengan lift khusus bagi difabel dengan tombol-tombol yang aksesibel, kendaraan umum (bus) yang aksesibel, penyebrangan jalan yang aksesibel, dll.
Selain bangunan fisik yang aksesibel, kota ini juga memiliki fasilitas lain yang ramah bagi difabel. Ada beberapa hal penting yang saya catat bisa diterapkan di Indonesia untuk masa yang akan datang. Beberapa hal itu mencakup:

1.      Sarana transportasi umum
Eugene memiliki sebuah system transportasi umum yang bernama Lane Transit District yang biasa disebut LTD bus atau cukup LTD. LTD merupakan alat transportasi yang akan kami gunakan selama mengikuti kegiatan di sini.
LTD merupakan sebuah system transportasi yang 100% aksesibel bagi difabel. Semua jenis difabilitas mampu mengakses alat transportasi ini dengan aman dan nyaman.
Direktur LTD (yang adalah seorang perempuan) yang memaparkan bagaimana cara kerja LTD dan bagaimana mereka bisa mencapai system yang 100% aksesibel. Mereka juga membawa sabuah bus dan salah satu pengemudinya untuk menunjukkan pada kami secara langsung bagaimana bus tersebut bekerja sehingga kami mudah untuk mengaksesnya.
Setiap bus LTD memiliki 2 tempat khusus di bagian depan dengan kursi yang bisa dilipat sehingga kursi roda bisa masuk. Area ini memiliki sabuk pengaman yang menjamin keselamatan pemakai kursi roda selama dalam perjalanan. Biasanya pengemudi bus akan memastikan kursi roda terpasang di tempatnya dengan aman dan nyaman sebelum menjalankan kendaraannya. Bus juga bisa dinaik-turunkan sehingga memudahkan penumpang untuk masuk ke dalamnya. Selain itu bus juga memiliki ramp di pintu bagian depan yang membuat pemakai kursi roda mampu naik bus tanpa bantuan dari orang lain.
Selama pengalaman saya naik bus LTD, baik pengemudi maupun sesama penumpang akan dengan senang hati untuk menawarkan bantuan terhadap difabel jika memang dibutuhkan. Biasanya setiap difabel dipastikan masuk ke bus dan duduk dengan nyaman sebelum penumpang lain masuk.
Kemudian di sepanjang kursi depan terdapat tanda peringatan bahwa area ini diprioritaskan bagi penumpang difabel dan orang tua. Biasanya area ini sengaja dikosongkan, atau ketika ada penumpang difabel/orang tua maka tanpa diminta penumpang non difabel/orang tua akan pindah dan memberikan tempatnya.
Untuk naik ataupun turun bus, ada bus stop khusus. Setiap bus stop dilengkapi dengan nomor tertentu yang mengindikasikan nomor yang menjadi rute bus. Ketika ada orang yang berada di depan halte otomatis pengemudi bus dengan nomor yang sesuai akan berhenti. Untuk turun dari bus penumpang tinggal menarik panel atau menekan tombol yang berada di dekat jendela di sisi samping kanan kiri bus. Jika tombol berbunyi maka pengemudi akan berhenti pada bus stop di depannya.

2.      Pendidikan inklusi
Diketahui bahwa di Amerika berhasilnya petisi 504 membuat pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan difabel mendapatkan haknya, termasuk hak pendidikan. Seorang anak difabel tidak boleh dimasukkan ke dalam sekolah khusus. Untuk itu pemerintah menyediakan dana khusus untuk memenuhi kebutuhan anak difabel tersebut selama di sekolah, seperti menyediakan penterjemah bahasa isyarat bagi siswa tuna rungu, menyediakan buku dengan huruf braile bagi siswa tuna netra, serta menyediakan gedung yang aksesible bagi difabel.
Hal yang membuat saya dan beberapa rekan agak heran adalah, di sana semua jenis difabilitas mampu dilayani dengan baik di sekolah-sekolah umum. Beberapa hal memang perlu dilakukan supaya adanya siswa difabel di dalam kelas tidak mengganggu proses pembelajaran di kelas, dan siswa difabel merasa nyaman seperti siwa lainnya yang non difabel. Beberapa hal yang dilakukan antara lain mempersiapkan siswa tuna rungu 15 menit sebelum pelajaran dimulai bersama dengan penterjemah bahasa isyarat yang mendampinginya.
Selain itu ada pelatihan bagi pengajar untuk berperspektif terhadap difabel. Pelatihan ini diadakan secara berkala sehingga setiap pengajar memiliki kemampuan untuk menangani setiap siswa difabel yang berada di kelasnya.
Pengajar yang berperspektif difabel memegang kunci penting bagi keberhasilan pendidikan bagi siswa difabel. Dari pengajar inilah lingkungan kondusif bagi pendidikan difabel bisa diciptakan. Adanya kesadaran bagi siswa lainnya yang non difabel, siswa difabel bisa diterima dengan baik di kelasnya. Selain menghimpun kesadaran dari siswa non-difabel, pengajar juga berkewajiban menghimpun kesadaran dari keluarga terutama keluarga dari siswa difabel. Dengan adanya kesadaran di lingkungan difabel inilah maka pendidikan inklusi berhasil diwujudkan.
* Petisi 504 adalah sebuah tonggak suksesnya pergerakan difabel di Amerika Serikat dalam memperjuangkan haknya. Semenjak petisi ini disyahkan oleh pemerintah, hak-hak difabel diakui dan mendapat jaminan dari negara

3.      Penyediaan lapangan pekerjaan bagi difabel
Selama berada di sana saya sempat bertemu dan menanyakan banyak hal pada 2 orang yang memiliki multiple difabilitas namun mampu bekerja.
a.       Sam
Sam adalah seorang penderita celebral palsy. Sehari-hari dia hanya bisa duduk di kursi roda dan sulit untuk melakukan kegiatan lain. Sam bekerja untk menghancurkan dokumen kantor yang sudah tidak terpakai. Sam pergi ke kantor-kantor yang membutuhkan tenaganya. Sam memiliki seorang PA (personal assistant) yang membantu membawanya pergi ke kantor-kantor tersebut dan membatunya memasukkan dokumen ke mesin penghancur kertas.
Sam dibayar perjam dengan upah minimal yang berlaku di negara bagian tersebut dan bekerja sesuai dengan kemampuannya. Jika dalam sehari dia hanya bisa bekerja 3 jam maka Sam hanya akan bekerja selama 3 jam perhari.
b.      Tom
Tom juga seorang penyandang multiple disabilitas. Sehari-harinya Tom memakai kursi roda elektrik. Tom adalah seorang agen penjualan online. Tom bisa bekerja dari rumah menggunakan fasilitas internet. Sama seperti Sam Tom juga memiliki PA. Tom dibayar berdasarkan komisi dari penjualan yang dapat dia lakukan.
Catatan: seorang PA penyandang multiple disabilitas biasanya juga seorang difabel. Mereka bekerja dan dibayar untuk sebagai seorang PA. Ada sebuah organisasi di Amerika yang khusus mencarikan dana untuk membayar PA tersebut.

Selain Tom dan Sam saya juga sempat bertemu dengan Felicia. Felicia adalah seorang pengguna kursi roda elektrik, tidak seperti Sam dan Tom Felicia tidak memerlukan PA dalam menjalani pekerjaannya. Felicia bekerja pada LTD sebagai pemberi arahan penumpang. Sehari-harinya dia berkeliling stasiun untuk memberikan informasi kepada penumpang tentang system LTD bus. Kerja Felicia memudahkan penumpang lebih mudah menggunakan alat transportasi ini sehingga meningkatkan jumlah penumpang LTD bus. Selain Felicia TLD juga mempekerjakan difabel lain untuk posisi yang sama.

4.      Kesehatan bagi perempuan difabel dan upaya menghindari kekerasan terhadap perempuan difabel
Saya dan rekan-rekan juga berkesempatan berdiskusi bersama beberapa orang narasumber tentang permasalahan seputar perempuan. Beberapa topic yang diangkat adalah seputar pengendalian kelahiran, kekerasan seksual dan kekerasan terhadap perempuan. Beberapa hal yang kadang dianggap tabu dibahas dalam sesi ini bersama narasumber yang merupakan praktisi berpengalaman dalam bidangnya.
Perempuan difabel merupakan kelompok yang minim akses dan rentan terhadap kekerasan. Selama ini permasalahan seputar perempuan jarang diangkat ke permukaan. Jadi sesi ini menjadi kesempatan emas bagi kami perempuan difabel untuk bertanya dan bertukar pikiran.
Selain itu kami belajar teknik self defence. Pada mulanya saya sempat berfikir teknik yang akan dibahas adalah dasar-dasar ilmu bela diri, rasanya akan sulit sekali difabel seperti kami mendalami teknik-teknik bela diri.
Namu pada kenyataannya teknik bela diri yang dibahas dalam sesi ini bukan seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Teknik-teknik sederhana yang sangat bermanfaat bagi kami. Beberapa teknik dasar yang diajarkan adalah bagaimana menghindari kekerasan menimpa diri kita, dan bagaimana melawan jika hal ini sampai terjadi.
Hal dasar yang diperlukan untuk menghindari kekerasan menimpa kita adalah memperlihatkan sikap orang yang tidak mudah diserang. Diketahui bahwa pelaku tindak kekerasan memilih korban yang paling mudah diserang. Seseorang yang memiliki sikap tidak percaya diri, tunduk dan pasrah lebih mudah diserang dibandingkan orang yang bersikap penuh percaya diri dan tidak pasrah.
Namun ketika penyerangan itu sampai terjadi, mengingat perempuan difabel sering dianggap lemah maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan: Langkah pertama adalah dengan lantang mengatakan TIDAK, ketika seseorang datang dan mengganggu wilayah privacy kita, meskipun dengan cara yang baik namun kita kita tidak menyukainya tetap katakana TIDAK dengan lantang.
Langkah kedua adalah menggunakan beberapa teknik dasar. Teknik dasar membela diri itu diantaranya adalah mengetahui tititk-titik tertentu di tubuh penyerang, yang ketika diserang akan berakibat fatal. Selain menggunakan tangan kosong kita juga menggunakan alat bantu yang kita miliki untuk menyerang seperti memukulkan kruk penyangga jalan (bagi penderita polio) atau menabrak kaki penyerang dengan kursi roda.
Langkah ketiga adalah meminta bantuan. Jika kita dalam kesulitan dalam menghadapi situasi penyerangan, lebih baik meminta orang lain untuk membantu.

5.      Sarana rekreasi dan olahraga
Selama berada di USA, kami diperkenalkan dengan beberapa sarana rekreasi dan olahraga yang aksesibel terhadap difabel. Tercatat ada 3 jenis kegiatan yang kami ikuti yaitu: berenang, rafting dan rope challenge.
a.       Kolam renang yang aksesible bagi difabel
Ada sesi dimana semua peserta WILD program beserta host family diajak untuk berenang bersama di sebuah kolam renang yang terletak sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota Eugene.
Kolam renang ini didesain mampu mengakomodir beberapa jenis disabilitas. Selain tangga, ada jalur khusus melandai seperti ramp di pinggir kolam sehingga kursi rod bisa masuk ke kolam.
Selain itu, di kolam renang tersebut juga disediakan beberapa alat tambahan yang memungkinkan difabel berenang dengan aman.
b.      Rafting di McKenzie River
Rafting merupakan sebuah aktivitas menantang yang membutuhkan kondisi fisik prima. Hampir tak pernah terbayangkan di benak saya bahwa suatu hari saya akan dapat melakoni kegiatan satu ini.
McKenzie River adalah sebuah sungai besar yang melintas di wilayah Oregon. Hulu sungai terletak di pegunungan yang sering kali tertutup salju membuat sungai ini berair sangat dingin. Saya sempat merasakan betapa dingin airnya karena di tengah perjalanan Jack –pemandu kegiatan rafting professional yang mendampingi kami– telah dengan sukses memprovokasi saya untuk menceburkan diri di sungai.
Sarana rafting diubah sedemikian rupa sehingga aman bagi difabel untuk menaikinya. Beberapa perubahan tersebut di antaranya adalah pemasangan kursi tambahan pada perahu karet yang dipakai rafting.
Dengan keamanan yang terjamin, melintasi sungai dengan arus deras di beberapa titik menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan.
c.       Rope challenge
Pada hari ketiga kegiatan kami dibawa ke sebuah hutan pinus untuk mengikuti salah satu kegiatan out door berupa rope challenge. Ini merupakan kegiatan semacam outbond. Rangkaian kegiatan yang harus kami ikuti di antaranya adalah adu melilitkan tali temali (teamwork), mempertahankan keseimbangan di atas balok kayu yang bisa berputar ke 3600 arah (teamwork) dan tantangan bergelayutan puluhan meter di atas tanah dengan hanya diikat tali (perorangan)
Meski beberapa peserta ketakutan ketika harus bergelantungan puluhan meter di atas tanah, semuanya mampu mengikuti tantangan dengan baik dan aman.

Demikian sekelumit cerita yang dapat saya bagikan berkaitan dengan kegiatan saya selama di USA. Satu hal menonjol yang saya lihat dari penduduk Amerika adalah betapa mereka menghormati hak-hak difabel, kesadaran itu terbentuk secara merata bukan hanya kesadaran parsial. Sesuatu yang sangat ingin saya temui di Indonesia. Saya masih memiliki harapan itu terwujud suatu hari nanti. Semoga.

Senin, 06 Februari 2012

Kamis, 24 November 2011

Sekelumit dari pernikahan Ibas-Allya

Pagi ini saya menonton acara pernikahan Ibas-Allya. Acara pernikahan yang banyak dikritik karena konon menghabiskan budget fantastis. Anyway, that is not the point. Apapun kontroversi di baliknya buat saya sebuah prosesi pernikahan adalah acara yang sakral dan menarik untuk diikuti dan saya sedang tidak ingin membahas tetang kontroversi tersebut.
Satu hal yang menarik bagi saya adalah petuah pernikahan yang disampaikan oleh tokoh pendidikan Prof Arief Rahman. What a lovely words! Ceramah yang disampaikan berisi banyak kata-kata indah, banyak doa, banyak cinta dan banyak pujian atas keagungan Tuhan. Kata-kata yang disampaikan lebih pada bagaimana membangun harmonisasi sebuah pernikahan, bukan mendikte apa yang boleh dan apa yang tidak boleh (yang biasanya sangat tendensius, hanya berdasar keyakinan penceramah)
Biasanya saya sangat tidak menyukai adanya penceramah yang memberikan petuah dalam upacara pernikahan. Sangat tidak menyukai malah. Bahkan saya sering nyeletuk tidak akan mengundang penceramah semacam ini untuk berbicara di prosesi pernikahan saya nanti.
Biasanya ceramah yang dilakukan pada prosesi ini berisi petuah tentang pernikahan. Sang penceramah seringnya akan memberikan nasehat tentang hak dan kewajiban suami-istri. Yang paling mengesalkan adalah pada poin ini penceramah akan memberikan pandangan yang timpang. Penceramah (yang umumnya laki-laki) akan menekankan hak suami dan kewajiban istri. Nggak adil!
Tolok ukur yang dipakai penceramah adalah tolok ukur lama yang bias gender. Pandangan yang dipakai adalah istri merupakan “kanca wingking” bagi suami. Jadi si penceramah menekankan bahwa kewajiban istri adalah melayani kebutuhan suami, bersabar menghadapi suami, dan beberapa hal yang semakin mengecilkan peran istri sebagai rekan sejajar bagi suami.
Belum lagi penceramah akan menyisipkan joke-joke ringan tentang malam pertama. Hello!! That is something personal between us sir, no need any joke from you to do it tonight! Saya heran, adakah contain berbau pornografi tersebut layak untuk disampaikan pada audiens yang beragam. Banyak anak-anak yang ikut hadir di situ, so beware sir!
Hmm, kalau penceramahnya macam bapak professor saya mau tuh sesi petuah pernikahan diadakan. Masalahnya Prof Arif Rahman bersedia tidak ya….

Jumat, 05 November 2010

DUKA MBAH SUTI

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang sosok Mbah Suti (baca : Dan Anggota Gerwani Itu Ternyata…). Saat ini ada kisah lain yang menghampiri perempuan 80 tahunan tersebut dan masyarakat sekitarnya.
Ketika merapi menampakkan kekuatannya, telah banyak berjatuhan korban. Puluhan orang meninggal, puluhan lainnya luka-luka dan ribuan orang terpaksa harus mengungsi. Diantara ribuan pengungsi tersebut terdapat Mbak Suti dan tetangga-tetangganya. Tanah mereka yang biasanya subur itu kini berbahaya. Tak ayal mereka harus meninggalkan rumah, sawah, ternak dan harta benda mereka.
Pada Kamis malam hingga Jumat ini letusan merapi meningkat. Lokasi aman yang semula hanya 15 km langsung berubah menjadi 20 km. Suara gemuruh terdengar hampir tanpa henti. Langit di atas merapi berwarna merah membara. Berkubik-kubik material panas dilontarkan ke udara. Hujan abu, pasir dan kerikil terjadi di mana-mana. Kondisi itu membuat para warga di lereng merapi panic.
Daerah-daerah yang semula dirasa aman untuk dijadikan tempat pengungsian menjadi tidak aman. Warga yang sudah mengungsi itu kembali diungsikan lagi,. Daerah yang semula menjadi tempat penampungan berubah status, penduduknya terpaksa juga harus diungsikan.
Akibatnya saat ini sejumlah tempat di Boyolali Kota dan sekitarnya berubah menjadi kantung-kantung pengungsian.
Warga sekitar Mbah Suti saat ini mengungsi di Gedung Puri Putri Boyolali yang terletak sekitar 100 meter sebelah barat Kantor Kabupaten Boyolali. Lokasi yang biasanya digunakan sebagai tempat resepsi itu kini berubah fungsi. Di lokasi itu sedikitnya terdapat 2.500 pengungsi. Sampai saat ini beberapa orang dari LKTS masih melakukan koordinasi di lokasi tersebut.
Sementara tulisan ini dibuat, keberadaan Mbah Suti masih belum jelas. Beberapa kabar simpang-siur masih diterima. Kita berharap nenek luar biasa satu itu dalam keadaan baik-baik saja. Semoga…

Rabu, 21 April 2010

Selamat Hari Kartini bagi Perempuan-Perempuan Cantik


Hari ini tepat pada tanggal 21 April dimana segenap bangsa Indonesia merayakan hari Kartini saya mendapatkan sebuah pesan yang sangat cantik dari teman saya yang cantik

Wanita cantik :

♥Melukis kekuatan melalui proses kehidupan
♥Bersabar saat tertekan
♥Tersenyum di saat hati menangis
♥Diam saat terhina (maaf, khusus poin ini saya tidak sepakat –red)
♥Mempesona krn memaafkan
♥Mengasihi tanpa pamrih
♥Bertambah kuat di dlm doa & pengharapan

Di kirim khusus utk setiap wanita cantik ...
Kirim ke smua wanita yg menurutmu cantik ...

Mnurutku kamu cantik. Selamat hari Kartini.......


Pesan yang sangat indah, mengingatkan seriap perempuan bahwa mereka cantik. Ya, saya percaya bahwa perempuan dilahirkan untuk menjadi cantik
Namun hal yang seringkali terjadi adalah banyak perempuan yang menganggap diri mereka tidak cantik. Ini karena sedari awal mereka telah salah kaprah meyakini standar-standar kecantikan yang absurd. Pemahaman yang salah tersebut menyebabkan mereka menisbikan bentuk-bentuk kecantikan yang sebenarnya telah melekat pada dirinya. Dan berlomba-lomba mendapatkan bentuk-bentuk kecantikan yang diyakini ‘benar’ dengan berbagai konsekuensi yang harus mereka tanggung.
Konteks kecantikan yang diartikan secara sempit dan digeneralisasikan demi kepentingan-kepentingan kapitalisme telah membunuh sekian banyak harapan perempuan menjadi cantik.
Kecantikan tidak bisa secara kaku diterjemahkan sebagai kulit putih bersih, hidung mancung, rambut lurus, badan langsing, dan lain sebagainya.
Telah banyak korban timbul akibat pemahaman yang salah ini; kulit melepuh akibat penggunaan bahan pemutih, terpaksa dirawat di rumah sakit akibat pola-pola diet, kanker kulit karena suntik silicon, bahkan ada yang berujung kematian akibat ingin mendapatkan label ‘cantik’. Rasanya miris setiap kali kita membaca beritaiberita semaca ini di media massa.
Padahal yang ada nilai kecantikan itu berlaku sangat luas dan beragam. Tidak percaya???
Coba tuliskan sederet standar kecantikan yang bisa nada temukan (saya bisa menemukan puluhan, bahkan ratusan deret saat ini, dan otak saya masih bisa diajak berfikir untuk menemukan lagi…), kemudian cari dari deret tersebut berapa yang telah anda miliki. Tentu anda memiliki…. Karena anda adalah perempuan yang cantik! Saya yakinkan anda adalah perempuan yang cantik!!

Jumat, 22 Januari 2010

MDGs and Their Relationship to Disability

650 million people live with disabilities. Unless such huge numbers of people are part of development policies and programmes, it will be impossible to attain any of the Millennium Development Goals

MDG1: Eradicate Extreme Poverty and Hunger

Extreme poverty among families with a family member with a disability may limit the amount and quality of food for them and their families. In house holds with limited resources it is often the woman or girl child with disabilities who is often the last fed or fed.

MDG2: Achieve Universal Primary Education

Poverty and prejudice bar families and communities from educating the girl child with disabilities. Where resources are scarce, the girl child with disabilities is often deprived of even a basic education.

MDG3: Promote Gender Equality and Empower Women

Women with disabilities face extreme discrimination compared to not only a person without disabilities but often from men with disabilities and often less preferred in programmes.

MDG4: Reduce Child Mortality

Infanticide or the deliberate killing of infants with disabilities, especially girls with disabilities, is a huge problem in certain countries.

MDG5: Improve Maternal Health

There is very little information or services available for women with disabilities on maternal health or pregnancy-related information. Women with disabilities also have little access to maternal health related information and care.

MDG6: Combat HIV/AIDS, Malaria and Other Diseases

A disproportionate percentage of women with disabilities who became HIV positive tend to be unable to access proper clinical care.

MDG7: Ensure Environmental Sustainability

Deteriorating environments can have a significant and disproportionate impact on women with disabilities, especially pregnant women with disabilities, and this can be a cause disability.

MDG8: Develop a Global Partnerships for Development

Of the approximately 650 million persons with disabilities world wide, an estimated 80 percent live in developing countries. International partnerships are key to any sustainable development programme.

(taken from: Disability Rights, Gender and Development A Resource Tool For Action)


Jumat, 15 Januari 2010

DUH PELITNYA SAYA


Ada 2 kelompok orang yang membuat saya pelit mengeluarkan uang. Kelompok pertama adalah para peminta sumbangan dan kelompok kedua adalah pengamen. Seringnya meski saya mengeluarkan uang untuk 2 kelompok tersebut namun jumlahnya sangat sedikit. Itupun tidak diiringi keikhlasan yang mendalam. Duh betapa pelitnya saya…

Bagi saya orang yang meminta sumbangan sama dengan mengemis. Yang paling membuat saya makin tidak suka adalah ketika mereka memakai simbol-simbol keagamaaan dan difabel sebagai dalih dalam meminta sumbangan. Puih, kalau memang belum cukup dana ya jangan mendirikan atau membangun tempat ibadah. Tunggu sampai dananya cukup dulu, bukan dengan meminta dari pintu ke pintu, apalagi menyodorkan kotak di pinggir jalan dan perempatan.

Apalagi meminta sumbangan dengan alasan kedifabelan, itu membuat saya sebal. Emang difabel itu identik dengan rasa kasihan apa! Difabel bukan alasan untuk menjadi obyek belas kasian dan iba.

Hemat saya menyumbang ya di posko penerima sumbangan yang sudah disediakan. Kita pergi kesana karena memang berniat untuk menyumbang, bukan Karena ada paksaan, karena ada orang yang memintai. Dan lebih jelas arah uang itu kemana.

Kelompok kedua yang membuat saya pelit adalah pengamen. Pengamen bagi saya tidak jauh berbeda juga dengan pengemis. Karena biasanya mereka menyanyi dengan nada yang jauh dari enak didengar di kuping. Mending dengerin mp3 saja. Selain itu ada beberapa pengamen yang bersikap tidak menyenangkan ketika orang tidak mau meberikan uang. Huh sudah minta maksa lagi….

Namun ada beberapa perkecualian jenis pengamen yang membuat saya mengacungkan jempol dan membuat kepelitan saya menghilang. Di Boyolali, ada banyak warung soto bertebaran. Meski demikian warung-warung soto tersebut nyaris tidak pernah sepi sendiri. Hmm, jelas soto telah menjadi menu andalan kuliner Boyolali.

Yang menarik adalah di bagian depan warung-warung soto tersebut biasanya terdapat sekelompok pengamen. Biasanya mereka duduk di sebelah pintu masuk warung. Grup yang terdiri dari 4-7 orang tersebut mengusung jenis musik campursari. Meskipun jenis musik tersebut bukan merupakan jenis musik yang yang saya gemari namun saya memberikan apresiasi positif bagi mereka.

Penampilan mereka yang sopan dan ramah, tetap memainkan lagu tanpa peduli apakan pengunjung memberikan uang atau tidak, serta memperlihatkan kualitas musik yan cukup memadai (tidak sekedar genjrang-genjreng tak enak didengarkan) membuat saya tidak sayang mengisi kotak mereka (biasanya mereka menempatka sejenis wadah plastic yang biasanya digunakan sebagai tempat nasi di depan mereka sebagai tempat pengunjung memberika uang). Dan nampaknya bukan saya saja yang berfikir begitu, karena bila dilihat dal;am wadah plastic tersebut isinya kebanyakan bukan berupa recehan koin seperti pada pengamen lain, tapi lebih didominasi oleh uang kertas.

Pengamen lain yang menarik bagi saya biasanya duduk di depan warung bakso kesukaan saya. Pengamen tersebut hanya menggunakan alat musik siter. Siter adalah alat musik tradisional Jawa yang dimainkan dengan cara dipetik. Belakangan pemain siter mulai langka.

1 lagi pengamen yang membuat saya memberi apresiasi baik adalah pemain biola yang dulu sering berkeliling di daerah kost saya di Jogja. Saya adalah seorang penikmat musik yang dihasilkan oleh biola tersebut. Pria paruh baya tersebut memainkan biolanya dengan bagus. Temen kost saya yang kebetulan juga seorang penyuka biola bahkan rela mengejar pemain biola tersebut, dan memanggilnya untuk bermain biola di depan kami. Hmm, kami sangat menikmati pertunjukan yang bagus tersebut.

Jadi rasanya untuk 3 pengamen yang saya sebutkan di atas, kepelitan saya hilang sudah. Leganya…

Rabu, 16 Desember 2009

MARI DUKUNG RATIFIKASI KONVENSI HAK DIFABEL

Secara internasional hak-hak difabel telah diakui. Hal itu terlihat dari adanya Convention on the Rights of Disabled People (CRPD) atau Konvensi Hak Difabel. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 13 Desember 2006 menyepakati konvensi untuk melindungi hak 650 juta difabel sedunia dengan resolusi No. 61/106. Konvensi itu melarang pembatasan difabel dari hak pendidikan, pekerjaan, dan politik. Tercatat ada 143 negara yang telah menandatangani konvensi tersebut dan Indonesia telah menandatangani konvensi pada tanggal 30 Maret 2008.

Sesuai dengan UU No.24 Tahun 2000 tentang perjanjian Internasional, maka sebuah konvensi akan menjadi hukum nasional apabila telah diratifikasi. Ratifikasi adalah pengesahan sebuah Konvensi menjadi undang-undang. Tidak ada batas waktu berapa lama negara diharuskan meratifikasi sebuah konvensi sejak penandatanganan. Oleh karena itu dukungan semua pihak diperlukan supaya Konvensi Hak difabel ini bisa segera diratifikasi.

Kekurangseriusan

Keikutsertaan Indonesia dalam pendandatanganan Konvensi Hak Difabel menunjukkan komitmen kuat bangsa Indonesia dalam memajukan hak-hak difabel. Meski demikian pada kenyataan kesungguhan bangsa ini dalam melaksanakannya masih jauh dari harapan.

Sampai saat ini jutaan difabel di Indonesia masih bergelut dengan berbagai perlakukan diskriminatif. Sebagian besar dari mereka masih mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Beberapa kesulitan yang kerap terjadi diantaranya adalah: penolakan difabel untuk memasuki sekolah umum, minimnya fasilitas publik yang memperhatikan kebutuhan difabel, sempitnya akses lapangan pekerjaan, kurangnya dukungan pemerintah terhadap pengiriman atlit difabel ke tingkat dunia, juga kungkungan stigma-stigma difabel. Stigma yang masih melekat adalah berbagai anggapan bahwa kaum difabel itu lemah, aib, sakit dan menjadi beban bagi orang lain

KOMNAS HAM dalam hasil penelitiannya tahun 2006 tentang monitoring pemahaman hak-hak penyandang cacat di 9 daerah di Indonesia (Sulawesi Selatan, Kepulauan Riau, NTT, Banten, Sumatera Selatan, Riau Daratan, Jawa Timur, Yogyakarta, Jambi), telah menemukan bahwa secara umum pemenuhan hak-hak penyandang cacat oleh negara atau pemerintah masih belum maksimal, utamanya karena masih minimnya pengetahuan dan pemahaman mengenai hak-hak difabel (Naskah Akademis Komnas HAM Tahun 2007)

Beragam perlakuan diskriminatif dan stigmatisasi difabel ini terjadi dalam berbagai tataran dari keluarga hingga pada masyarakat luas. Faktor yang menyebabkan hal ini ada 2 macam. Pertama rendahnya kesadaran masyarakat dan tidak adanya rumusan yang jelas tentang jaminan dan mekanisme perlindungan serta pemenuhan hak difabel. Ini terlihat dari lemahnya implementasi berbagai perundangan yang menjamin pemenuhan hak difabel. Kedua adalah rendahnya kesadaran difabel itu sendiri. Pada umumnya difabel tidak sadar bahwa mereka memiliki hak asasi, pada umumnya mereka menganggap berbagai perlakuan diskriminatif dan stigma yang ditujukan bagi mereka adalah hal yang wajar. Kurangnya sosialisasi akan hak-hak yang dimiliki oleh difabel menjadi penyebab utama mengapa hal ini bisa terjadi.

International Disabled Day

Kondisi memprihatinkan yang masih dialami oleh sebagian besar difabel di Indonesia di atas menyebabkan diratifikasinya Konvensi Hak Difabel menjadi sebuah kebutuhan mutlak. Dan ini perlu didesakkan dengan segera, sehingga mampu mengatasi berbagai persoalan difabel dan mengangkat mereka dari keterpurukan.

Meskipun secara umum, seluruh konvensi yang berkaitan dengan hak asasi manusia dapat digunakan sebagai landasan perlindungan hak-hak difabel, namun tidak satupun dari konvensi-konvensi tersebut menyebut masyarakat difabel secara eksplisit. Oleh karena itu Konvensi ini merupakan instrumen hukum pertama yang mengikat dan berisi perlindungan yang komprehensif terhadap hak-hak difabel.

Bertepatan dengan peringatan International Disabled Day jatuh pada tanggal 3 Desember tahun ini Committee on the Rights for Persons with Disabilities (CRPD) mencanangkan Week long program of celebrations of the International Day of Persons with Disabilities. Program yang berlangsung pada tanggal 3-9 Desember 2009 bertemakan pemberdayaan difabel melaui hak untuk malakukan tindakan (http://www.ohchr.org)

Mulai tanggal 3 Desember 2009 hingga seminggu kemudian seluruh dunia akan memberikan pengakuan, memberikan dukungan serta meningkatkan kesadaran terhadap difabel. Pada peringatan itu juga diharapkan adanya pembaharuan komitmen dalam meratifikasi dan implementasi sepenuhnya terhadap Konvensi Hak Difabel.

Dalam kesempatan tersebut, akan menjadi sebuah kado indah bagi difabel apabila Indonesia bisa turut serta di dalamnya. Utamanya adalah dengan meratifikasi Konvensi Hak Difabel yang telah ditandatangani hampir 2 tahun lalu. Implikasinya, setelah konvensi diratifikasi, Pemerintah akan mereformasi peraturan perundangan yang ada sehingga sesuai dengan kewajiban yang diamanahkan dalam Konvensi. Ini berarti difabel di Indonesia bisa memiliki hak sebagaimana yang telah dinikmati difabel di negara lain yang telah meratifikasinya. Ini bisa menjadi bukti keseriusan negara dalam memenuhi hak-hak setiap warga negara termasuk juga hak-hak difabel.

Dukung Ratifikasi Konvensi Hak Difabel!!!

Selasa, 15 Desember 2009

Muse

Over the stars
Over the moon
And over the sun
But why...
We are still excluded???


(dedicated to all persons with disabilities in the whole world, celebrate International Disabled Day, December 3rd 2009)

Rabu, 28 Oktober 2009

Hope...

Cloudy sky
Doesn't mean that my heart go grey also
'Coz there is a hope
For better future
For better life

And when everything goes wrong
I know that He will guide me to the right path

Allah is the almighty
And He stay right beside me
Always...

Selasa, 20 Oktober 2009

Biru

Kenapa terasa ini sebagai beban?

Kenapa rasa sepi menghampiri?

Baru kucoba untuk melangkah pergi…

Terlihat dia berdiri di sana

Menjulang tegak bak batu karang

Seperti apa adanya dia,

Keras, kokoh dan tak tertembus

Entah berapa kali bilur kesakitan kurasakan

Tatkala mencoba menggapainya

Karena itulah dia…

Ada tapi tak teraih, dekat tapi tak terengkuh

Dan masih sakit ini masih kurasa

Tatkala kucoba untuk melangkahkan kaki

Menjauh darinya…

Sementara asa di depan

Terlihat sama-samar

Muncul dari sebuah horizon di ujung cakrawala

Semakin gamang yang kurasakan….

Selasa, 14 Juli 2009

Big Gift




I just received a big gift from my cousin last Sunday. They were several books to improve my English. It was a big gift because those books were so thick. It also a big gift ‘coz it consist of things I really need. Thanks a lot Mas Agus!
My cousin finished his 3 moths English course due to achieve his scholarship. And he will continue to his 11 moths France course. When everything is completely he will go to France to reach his master degree.
Even I and he often involved in debate (we often involved in discussion in various aspects), and we don’t always have same opinion. I and he always fight to defend ours). I am chosen as his heiress, I am so proud of this (LOL, the truth is his wife didn’t wanna bring all the books to Palu. She said it was too heavy because she had to go back to Palu only with her 6-years-old-daughter. My cousin will go to Jakarta to continue his course).
I do so happy to receive this gift. I wanna improve my English, but ‘till now I haven’t find a proper English Course in my little town. So learn by myself so far. Those books would be helpful for me at this moment.
But one thing, those thick books make me feel slack. Oh no, that was so bad…
It always be a problem to me to start reading non-fiction books. Different from fiction books -especially good novels- I don’t need so many times to finish reading them.
Oh I have to fix up this habit from now on
I have a big homework... But first I will finish Dan Brown's Novel "Angel and Demon" then I will do my homework...


Jumat, 12 Juni 2009

Mimpi Saya...


Ini adalah penerbangan pertama saya.
Biasanya saya jarang menggunakan fasilitas transportasi umum jika hendak bepergian. Sopir yang terburu-buru bisa membahayakan saya, mereka tidak memberi saya cukup waktu untuk saya menaiki dan menuruni kendaraan. Selain itu kondisi fisik kendaraan umum dan fasilitas bangunan fisik pendukungnya (terminal, pintu masuk kendaraan, jalan, dll) kerapkali membuat saya kesulitan.
Karenanya saya lebih sering menggunakan kendaraan pribadi, becak atau taksi ketika harus bepergian. Hal ini juga membuat kesulitan baru, karena selain ongkos yang dibayarkan menjadi lebih tinggi, keterbatasan juga ditemui ketika perjalanan yang harus saya tempuh cukup jauh. Yang tidak lagi terjangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi, becak atau taksi lagi.
Biasanya paling tidak ada salah seorang teman atau keluarga yang mendampingi saya untuk memastikan keamanan saya. Ketika bepergian saya selalu mencemaskan bagaimana ketika naik dan turun kendaraan, berharap pengemudi atau crew kendaraan tersebut cukup sabar dan mau memperhatikan kebutuhan saya.
Namun keadaan berbeda saya temui ketika mengakses layanan penerbangan. Layanan yang notabene milik kelas middle-up. Saya terbang dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan jadwal penerbangan pagi.
Tiba di terminal III Bandara Soekarno Hatta, saya mengamati bahwa kondisi fisik bangunan mudah untuk saya akses. Di samping tangga ada ramp (meskipun masih bisa mengaksesnya saya mengalami kesulitan naik/turun anak tangga yang rata-rata memiliki tinggi 20 cm, ini terlalu tinggi bagi saya). Keberadaan ramp memudahkan saya, meski saya tidak memakai kursi roda dalam keseharian.
Dari awal saya sudah menanyakan pada petugas bandara tentang fasilitas kursi roda. Luasnya area bandara serta naik turun lantai membuat saya kecapekan kalau harus berjalan kaki. Dan tanggapan petugas cukup baik, mereka langsung menyatakan akan menyediakan kursi roda.
Dan dalam waktu beberapa menit seorang petugas datang membawa kursi roda untuk saya. Petugas tersebut juga menawarkan untuk mendorong kursi roda itu untuk saya. Jadi ibu saya yang saat itu mendampingi saya tidak perlu dibuat kerepotan lagi karenanya. Biasanya orang yang mendampingi saya akan dibuat kerepotan, karena selain harus mengurus barang bawaan yang kami bawa, dia juga harus mengurus saya.
Petugas yang mendorong kursi roda untuk saya tersebut dengan sabar menjelaskan proses-proses yang harus kami lalui dan menjawab pertanyaan saya tentang fasilitas yang diperoleh difabel di bandara ini. Dia mengantarkan kursi roda saya sampai di depan pesawat dan memastikan saya sampai di tempat duduk saya di pesawat. Saya dan Ibu adalah penumpang pertama yang menaiki pesawat, hmm rupanya manula dan difabel masuk pesawat paling awal dan turun paling akhir. Sebuah prosedur yang memudahkan bagi saya.
Ketika hendak turun, pramugari meminta saya untuk turun paling akhir sembari menunggu kursi roda yang telah dia pesankan untuk saya di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta itu. Benar saja, ketika saya melewati pintu saya melihat seorang petugas bandara telah menunggu saya di bawah dengan sebuah kursi roda. Petugas itu bahkan membantu saya menuruni tangga pesawat.
Area Bandara Adi Sucipto sebenarnya tidak terlalu luas, tidak seluas Bandara Soekarno Hatta. Jadi saya masih bisa berjalan kaki, namun tidak ada salahnya saya menikmati pelayanan yang telah disediakan untuk saya.
Ini untuk pertama kali saya menikmati bepergian menggunakan fasilitas umum tanpa harus dihantui rasa takut dan khawatir. Saya bisa menikmati perjalanan dengan nyaman, begitu juga dengan orang yang mendampingi saya. Bahkan saya merasa percaya diri suatu saat saya bisa pergi sendirian, tanpa harus ada teman/keluarga yang mendamping saya.
Namun di balik kenyamanan fasilitas yang saya dapatkan terbersit sebuah kegetiran yang saya rasakan. Semua fasilitas ini hanya bisa dinikmati oleh difabel yang punya uang. Lantas bagaimana dengan mayoritas difabel di Indonesia yang hidupnya masih berada di ambang kemiskinan?
Tentunya mereka masih berkutat dengan sopir yang dikejar waktu tanpa mempedulikan keselamatan penumpang, terminal/stasiun yang hiruk pikuk dengan desain bangunan yang sama sekali tidak bersahabat dengan difabel, petugas-petugas yang belum memiliki kepedulian akan hak-hak difabel (kalaupun ada masih sangat tergantung pada kepedulian di tingkat personal).
Atau bahkan lebih buruk lagi, ada sebagian difabel yang masih terkungkung dalam dunia sempitnya. Dikucilkan karena masih dianggap beban dan aib, sehingga bagi mereka dunia hanya seluas rumah mereka, kampung mereka ataupun kota mereka.
Dan saya bermimpi....
Pada suatu saat nanti, layanan publik yang aksesibel terhadap kebutuhan difabel ini tersebar dimana-mana. Bukan hanya milik kaum middle-up saja. Dan pemenuhan akan hak-hak difabel merupakan sebuah standar pelayanan, bukan hanya dalam bentuk pelayanan standar internasional saja. Kesadaran itu terbentuk secara luas dan bukan hanya terbatas di tingkat personal saja. Dan difabel bisa menikmati layanan publik sama nyamannya dengan orang yang bukan difabel.
Kapan itu????

Kamis, 23 April 2009

When I Saw The Rainbow

I see the rainbow over the sky
God it’s so beutifull
I don’t even realized before
Before you came into my life and coloring it,
And makes the sun shine brighter than yesterday
I never wanna lose all new things I had
I’m thankfull ‘coz I have you by my side….