"Kebahagiaan kamu bukan tergantung pada orang lain melainkan ada pada diri kamu sendiri"
Senin, 18 Maret 2013
PENYANDANG DISABILITAS DIANGGAP SEBAGAI ORANG SAKIT DI BANDARA
Selasa, 12 Februari 2013
SAYA DAN KURSI RODA
Selasa, 20 November 2012
A 'lil note
Senin, 28 Mei 2012
MENIMBA ILMU DARI NEGERI PAMAN SAM (Catatan kegiatan pelatihan kepemimpinan bagi perempuan difabel sedunia-WILD Program)
Senin, 06 Februari 2012
Kamis, 24 November 2011
Sekelumit dari pernikahan Ibas-Allya
Satu hal yang menarik bagi saya adalah petuah pernikahan yang disampaikan oleh tokoh pendidikan Prof Arief Rahman. What a lovely words! Ceramah yang disampaikan berisi banyak kata-kata indah, banyak doa, banyak cinta dan banyak pujian atas keagungan Tuhan. Kata-kata yang disampaikan lebih pada bagaimana membangun harmonisasi sebuah pernikahan, bukan mendikte apa yang boleh dan apa yang tidak boleh (yang biasanya sangat tendensius, hanya berdasar keyakinan penceramah)
Biasanya saya sangat tidak menyukai adanya penceramah yang memberikan petuah dalam upacara pernikahan. Sangat tidak menyukai malah. Bahkan saya sering nyeletuk tidak akan mengundang penceramah semacam ini untuk berbicara di prosesi pernikahan saya nanti.
Biasanya ceramah yang dilakukan pada prosesi ini berisi petuah tentang pernikahan. Sang penceramah seringnya akan memberikan nasehat tentang hak dan kewajiban suami-istri. Yang paling mengesalkan adalah pada poin ini penceramah akan memberikan pandangan yang timpang. Penceramah (yang umumnya laki-laki) akan menekankan hak suami dan kewajiban istri. Nggak adil!
Tolok ukur yang dipakai penceramah adalah tolok ukur lama yang bias gender. Pandangan yang dipakai adalah istri merupakan “kanca wingking” bagi suami. Jadi si penceramah menekankan bahwa kewajiban istri adalah melayani kebutuhan suami, bersabar menghadapi suami, dan beberapa hal yang semakin mengecilkan peran istri sebagai rekan sejajar bagi suami.
Belum lagi penceramah akan menyisipkan joke-joke ringan tentang malam pertama. Hello!! That is something personal between us sir, no need any joke from you to do it tonight! Saya heran, adakah contain berbau pornografi tersebut layak untuk disampaikan pada audiens yang beragam. Banyak anak-anak yang ikut hadir di situ, so beware sir!
Hmm, kalau penceramahnya macam bapak professor saya mau tuh sesi petuah pernikahan diadakan. Masalahnya Prof Arif Rahman bersedia tidak ya….
Jumat, 07 Januari 2011
Jumat, 05 November 2010
DUKA MBAH SUTI
Ketika merapi menampakkan kekuatannya, telah banyak berjatuhan korban. Puluhan orang meninggal, puluhan lainnya luka-luka dan ribuan orang terpaksa harus mengungsi. Diantara ribuan pengungsi tersebut terdapat Mbak Suti dan tetangga-tetangganya. Tanah mereka yang biasanya subur itu kini berbahaya. Tak ayal mereka harus meninggalkan rumah, sawah, ternak dan harta benda mereka.
Pada Kamis malam hingga Jumat ini letusan merapi meningkat. Lokasi aman yang semula hanya 15 km langsung berubah menjadi 20 km. Suara gemuruh terdengar hampir tanpa henti. Langit di atas merapi berwarna merah membara. Berkubik-kubik material panas dilontarkan ke udara. Hujan abu, pasir dan kerikil terjadi di mana-mana. Kondisi itu membuat para warga di lereng merapi panic.
Daerah-daerah yang semula dirasa aman untuk dijadikan tempat pengungsian menjadi tidak aman. Warga yang sudah mengungsi itu kembali diungsikan lagi,. Daerah yang semula menjadi tempat penampungan berubah status, penduduknya terpaksa juga harus diungsikan.
Akibatnya saat ini sejumlah tempat di Boyolali Kota dan sekitarnya berubah menjadi kantung-kantung pengungsian.
Warga sekitar Mbah Suti saat ini mengungsi di Gedung Puri Putri Boyolali yang terletak sekitar 100 meter sebelah barat Kantor Kabupaten Boyolali. Lokasi yang biasanya digunakan sebagai tempat resepsi itu kini berubah fungsi. Di lokasi itu sedikitnya terdapat 2.500 pengungsi. Sampai saat ini beberapa orang dari LKTS masih melakukan koordinasi di lokasi tersebut.
Sementara tulisan ini dibuat, keberadaan Mbah Suti masih belum jelas. Beberapa kabar simpang-siur masih diterima. Kita berharap nenek luar biasa satu itu dalam keadaan baik-baik saja. Semoga…
Kamis, 04 November 2010
Senin, 27 September 2010
Rabu, 21 April 2010
Selamat Hari Kartini bagi Perempuan-Perempuan Cantik

Hari ini tepat pada tanggal 21 April dimana segenap bangsa Indonesia merayakan hari Kartini saya mendapatkan sebuah pesan yang sangat cantik dari teman saya yang cantik
Wanita cantik :
♥Melukis kekuatan melalui proses kehidupan
♥Bersabar saat tertekan
♥Tersenyum di saat hati menangis
♥Diam saat terhina (maaf, khusus poin ini saya tidak sepakat –red)
♥Mempesona krn memaafkan
♥Mengasihi tanpa pamrih
♥Bertambah kuat di dlm doa & pengharapan
Di kirim khusus utk setiap wanita cantik ...
Kirim ke smua wanita yg menurutmu cantik ...
Mnurutku kamu cantik. Selamat hari Kartini.......
Pesan yang sangat indah, mengingatkan seriap perempuan bahwa mereka cantik. Ya, saya percaya bahwa perempuan dilahirkan untuk menjadi cantik
Namun hal yang seringkali terjadi adalah banyak perempuan yang menganggap diri mereka tidak cantik. Ini karena sedari awal mereka telah salah kaprah meyakini standar-standar kecantikan yang absurd. Pemahaman yang salah tersebut menyebabkan mereka menisbikan bentuk-bentuk kecantikan yang sebenarnya telah melekat pada dirinya. Dan berlomba-lomba mendapatkan bentuk-bentuk kecantikan yang diyakini ‘benar’ dengan berbagai konsekuensi yang harus mereka tanggung.
Konteks kecantikan yang diartikan secara sempit dan digeneralisasikan demi kepentingan-kepentingan kapitalisme telah membunuh sekian banyak harapan perempuan menjadi cantik.
Kecantikan tidak bisa secara kaku diterjemahkan sebagai kulit putih bersih, hidung mancung, rambut lurus, badan langsing, dan lain sebagainya.
Telah banyak korban timbul akibat pemahaman yang salah ini; kulit melepuh akibat penggunaan bahan pemutih, terpaksa dirawat di rumah sakit akibat pola-pola diet, kanker kulit karena suntik silicon, bahkan ada yang berujung kematian akibat ingin mendapatkan label ‘cantik’. Rasanya miris setiap kali kita membaca beritaiberita semaca ini di media massa.
Padahal yang ada nilai kecantikan itu berlaku sangat luas dan beragam. Tidak percaya???
Coba tuliskan sederet standar kecantikan yang bisa nada temukan (saya bisa menemukan puluhan, bahkan ratusan deret saat ini, dan otak saya masih bisa diajak berfikir untuk menemukan lagi…), kemudian cari dari deret tersebut berapa yang telah anda miliki. Tentu anda memiliki…. Karena anda adalah perempuan yang cantik! Saya yakinkan anda adalah perempuan yang cantik!!
Jumat, 22 Januari 2010
MDGs and Their Relationship to Disability
650 million people live with disabilities. Unless such huge numbers of people are part of development policies and programmes, it will be impossible to attain any of the Millennium Development Goals
Extreme poverty among families with a family member with a disability may limit the amount and quality of food for them and their families. In house holds with limited resources it is often the woman or girl child with disabilities who is often the last fed or fed.
MDG2: Achieve Universal Primary Education
Poverty and prejudice bar families and communities from educating the girl child with disabilities. Where resources are scarce, the girl child with disabilities is often deprived of even a basic education.
MDG3: Promote Gender Equality and Empower Women
Women with disabilities face extreme discrimination compared to not only a person without disabilities but often from men with disabilities and often less preferred in programmes.
MDG4: Reduce Child Mortality
Infanticide or the deliberate killing of infants with disabilities, especially girls with disabilities, is a huge problem in certain countries.
MDG5: Improve Maternal Health
There is very little information or services available for women with disabilities on maternal health or pregnancy-related information. Women with disabilities also have little access to maternal health related information and care.
MDG6: Combat HIV/AIDS, Malaria and Other Diseases
A disproportionate percentage of women with disabilities who became HIV positive tend to be unable to access proper clinical care.
MDG7: Ensure Environmental Sustainability
Deteriorating environments can have a significant and disproportionate impact on women with disabilities, especially pregnant women with disabilities, and this can be a cause disability.
MDG8: Develop a Global Partnerships for Development
Of the approximately 650 million persons with disabilities world wide, an estimated 80 percent live in developing countries. International partnerships are key to any sustainable development programme.
(taken from: Disability Rights, Gender and Development A Resource Tool For Action)
Jumat, 15 Januari 2010
DUH PELITNYA SAYA

Bagi saya orang yang meminta sumbangan sama dengan mengemis. Yang paling membuat saya makin tidak suka adalah ketika mereka memakai simbol-simbol keagamaaan dan difabel sebagai dalih dalam meminta sumbangan. Puih, kalau memang belum cukup dana ya jangan mendirikan atau membangun tempat ibadah. Tunggu sampai dananya cukup dulu, bukan dengan meminta dari pintu ke pintu, apalagi menyodorkan kotak di pinggir jalan dan perempatan.
Apalagi meminta sumbangan dengan alasan kedifabelan, itu membuat saya sebal. Emang difabel itu identik dengan rasa kasihan apa! Difabel bukan alasan untuk menjadi obyek belas kasian dan iba.
Hemat saya menyumbang ya di posko penerima sumbangan yang sudah disediakan. Kita pergi kesana karena memang berniat untuk menyumbang, bukan Karena ada paksaan, karena ada orang yang memintai. Dan lebih jelas arah uang itu kemana.
Kelompok kedua yang membuat saya pelit adalah pengamen. Pengamen bagi saya tidak jauh berbeda juga dengan pengemis. Karena biasanya mereka menyanyi dengan nada yang jauh dari enak didengar di kuping. Mending dengerin mp3 saja. Selain itu ada beberapa pengamen yang bersikap tidak menyenangkan ketika orang tidak mau meberikan uang. Huh sudah minta maksa lagi….
Namun ada beberapa perkecualian jenis pengamen yang membuat saya mengacungkan jempol dan membuat kepelitan saya menghilang. Di Boyolali, ada banyak warung soto bertebaran. Meski demikian warung-warung soto tersebut nyaris tidak pernah sepi sendiri. Hmm, jelas soto telah menjadi menu andalan kuliner Boyolali.
Yang menarik adalah di bagian depan warung-warung soto tersebut biasanya terdapat sekelompok pengamen. Biasanya mereka duduk di sebelah pintu masuk warung. Grup yang terdiri dari 4-7 orang tersebut mengusung jenis musik campursari. Meskipun jenis musik tersebut bukan merupakan jenis musik yang yang saya gemari namun saya memberikan apresiasi positif bagi mereka.
Penampilan mereka yang sopan dan ramah, tetap memainkan lagu tanpa peduli apakan pengunjung memberikan uang atau tidak, serta memperlihatkan kualitas musik yan cukup memadai (tidak sekedar genjrang-genjreng tak enak didengarkan) membuat saya tidak sayang mengisi kotak mereka (biasanya mereka menempatka sejenis wadah plastic yang biasanya digunakan sebagai tempat nasi di depan mereka sebagai tempat pengunjung memberika uang). Dan nampaknya bukan saya saja yang berfikir begitu, karena bila dilihat dal;am wadah plastic tersebut isinya kebanyakan bukan berupa recehan koin seperti pada pengamen lain, tapi lebih didominasi oleh uang kertas.
Pengamen lain yang menarik bagi saya biasanya duduk di depan warung bakso kesukaan saya. Pengamen tersebut hanya menggunakan alat musik siter. Siter adalah alat musik tradisional Jawa yang dimainkan dengan cara dipetik. Belakangan pemain siter mulai langka.
1 lagi pengamen yang membuat saya memberi apresiasi baik adalah pemain biola yang dulu sering berkeliling di daerah kost saya di Jogja. Saya adalah seorang penikmat musik yang dihasilkan oleh biola tersebut. Pria paruh baya tersebut memainkan biolanya dengan bagus. Temen kost saya yang kebetulan juga seorang penyuka biola bahkan rela mengejar pemain biola tersebut, dan memanggilnya untuk bermain biola di depan kami. Hmm, kami sangat menikmati pertunjukan yang bagus tersebut.
Jadi rasanya untuk 3 pengamen yang saya sebutkan di atas, kepelitan saya hilang sudah. Leganya…
Rabu, 16 Desember 2009
MARI DUKUNG RATIFIKASI KONVENSI HAK DIFABEL
Secara internasional hak-hak difabel telah diakui. Hal itu terlihat dari adanya Convention on the Rights of Disabled People (CRPD) atau Konvensi Hak Difabel. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 13 Desember 2006 menyepakati konvensi untuk melindungi hak 650 juta difabel sedunia dengan resolusi No. 61/106. Konvensi itu melarang pembatasan difabel dari hak pendidikan, pekerjaan, dan politik. Tercatat ada 143 negara yang telah menandatangani konvensi tersebut dan
Sesuai dengan UU No.24 Tahun 2000 tentang perjanjian Internasional, maka sebuah konvensi akan menjadi hukum nasional apabila telah diratifikasi.
Kekurangseriusan
Keikutsertaan
Sampai saat ini jutaan difabel di
KOMNAS HAM dalam hasil penelitiannya tahun 2006 tentang monitoring pemahaman hak-hak penyandang cacat di 9 daerah di Indonesia (Sulawesi Selatan, Kepulauan Riau, NTT, Banten, Sumatera Selatan, Riau Daratan, Jawa Timur, Yogyakarta, Jambi), telah menemukan bahwa secara umum pemenuhan hak-hak penyandang cacat oleh negara atau pemerintah masih belum maksimal, utamanya karena masih minimnya pengetahuan dan pemahaman mengenai hak-hak difabel (Naskah Akademis Komnas HAM Tahun 2007)
Beragam perlakuan diskriminatif dan stigmatisasi difabel ini terjadi dalam berbagai tataran dari keluarga hingga pada masyarakat luas. Faktor yang menyebabkan hal ini ada 2 macam. Pertama rendahnya kesadaran masyarakat dan tidak adanya rumusan yang jelas tentang jaminan dan mekanisme perlindungan serta pemenuhan hak difabel. Ini terlihat dari lemahnya implementasi berbagai perundangan yang menjamin pemenuhan hak difabel. Kedua adalah rendahnya kesadaran difabel itu sendiri. Pada umumnya difabel tidak sadar bahwa mereka memiliki hak asasi, pada umumnya mereka menganggap berbagai perlakuan diskriminatif dan stigma yang ditujukan bagi mereka adalah hal yang wajar. Kurangnya sosialisasi akan hak-hak yang dimiliki oleh difabel menjadi penyebab utama mengapa hal ini bisa terjadi.
International Disabled Day
Kondisi memprihatinkan yang masih dialami oleh sebagian besar difabel di
Meskipun secara umum, seluruh konvensi yang berkaitan dengan hak asasi manusia dapat digunakan sebagai landasan perlindungan hak-hak difabel, namun tidak satupun dari konvensi-konvensi tersebut menyebut masyarakat difabel secara eksplisit. Oleh karena itu Konvensi ini merupakan instrumen hukum pertama yang mengikat dan berisi perlindungan yang komprehensif terhadap hak-hak difabel.
Bertepatan dengan peringatan International Disabled Day jatuh pada tanggal 3 Desember tahun ini Committee on the Rights for Persons with Disabilities (CRPD) mencanangkan Week long program of celebrations of the International Day of Persons with Disabilities. Program yang berlangsung pada tanggal 3-9 Desember 2009 bertemakan pemberdayaan difabel melaui hak untuk malakukan tindakan (http://www.ohchr.org)
Mulai tanggal 3 Desember 2009 hingga seminggu kemudian seluruh dunia akan memberikan pengakuan, memberikan dukungan serta meningkatkan kesadaran terhadap difabel. Pada peringatan itu juga diharapkan adanya pembaharuan komitmen dalam meratifikasi dan implementasi sepenuhnya terhadap Konvensi Hak Difabel.
Dalam kesempatan tersebut, akan menjadi sebuah kado indah bagi difabel apabila
Dukung Ratifikasi Konvensi Hak Difabel!!!
Selasa, 15 Desember 2009
Muse
Over the moon
And over the sun
But why...
We are still excluded???
(dedicated to all persons with disabilities in the whole world, celebrate International Disabled Day, December 3rd 2009)
Rabu, 28 Oktober 2009
Hope...
Doesn't mean that my heart go grey also
'Coz there is a hope
For better future
For better life
And when everything goes wrong
I know that He will guide me to the right path
Allah is the almighty
And He stay right beside me
Always...
Selasa, 20 Oktober 2009
Biru
Kenapa terasa ini sebagai beban?
Kenapa rasa sepi menghampiri?
Baru kucoba untuk melangkah pergi…
Terlihat dia berdiri di
Menjulang tegak bak batu karang
Seperti apa adanya dia,
Keras, kokoh dan tak tertembus
Entah berapa kali bilur kesakitan kurasakan
Tatkala mencoba menggapainya
Karena itulah dia…
Dan masih sakit ini masih kurasa
Tatkala kucoba untuk melangkahkan kaki
Menjauh darinya…
Sementara asa di depan
Terlihat sama-samar
Muncul dari sebuah horizon di ujung cakrawala
Semakin gamang yang kurasakan….
Selasa, 14 Juli 2009
Big Gift


My cousin finished his 3 moths English course due to achieve his scholarship. And he will continue to his 11 moths France course. When everything is completely he will go to France to reach his master degree.
Even I and he often involved in debate (we often involved in discussion in various aspects), and we don’t always have same opinion. I and he always fight to defend ours). I am chosen as his heiress, I am so proud of this (LOL, the truth is his wife didn’t wanna bring all the books to Palu. She said it was too heavy because she had to go back to Palu only with her 6-years-old-daughter. My cousin will go to Jakarta to continue his course).
I do so happy to receive this gift. I wanna improve my English, but ‘till now I haven’t find a proper English Course in my little town. So learn by myself so far. Those books would be helpful for me at this moment.
But one thing, those thick books make me feel slack. Oh no, that was so bad…
It always be a problem to me to start reading non-fiction books. Different from fiction books -especially good novels- I don’t need so many times to finish reading them.
Oh I have to fix up this habit from now on
I have a big homework... But first I will finish Dan Brown's Novel "Angel and Demon" then I will do my homework...
Jumat, 12 Juni 2009
Mimpi Saya...

Biasanya saya jarang menggunakan fasilitas transportasi umum jika hendak bepergian. Sopir yang terburu-buru bisa membahayakan saya, mereka tidak memberi saya cukup waktu untuk saya menaiki dan menuruni kendaraan. Selain itu kondisi fisik kendaraan umum dan fasilitas bangunan fisik pendukungnya (terminal, pintu masuk kendaraan, jalan, dll) kerapkali membuat saya kesulitan.
Karenanya saya lebih sering menggunakan kendaraan pribadi, becak atau taksi ketika harus bepergian. Hal ini juga membuat kesulitan baru, karena selain ongkos yang dibayarkan menjadi lebih tinggi, keterbatasan juga ditemui ketika perjalanan yang harus saya tempuh cukup jauh. Yang tidak lagi terjangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi, becak atau taksi lagi.
Biasanya paling tidak ada salah seorang teman atau keluarga yang mendampingi saya untuk memastikan keamanan saya. Ketika bepergian saya selalu mencemaskan bagaimana ketika naik dan turun kendaraan, berharap pengemudi atau crew kendaraan tersebut cukup sabar dan mau memperhatikan kebutuhan saya.
Namun keadaan berbeda saya temui ketika mengakses layanan penerbangan. Layanan yang notabene milik kelas middle-up. Saya terbang dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan jadwal penerbangan pagi.
Tiba di terminal III Bandara Soekarno Hatta, saya mengamati bahwa kondisi fisik bangunan mudah untuk saya akses. Di samping tangga ada ramp (meskipun masih bisa mengaksesnya saya mengalami kesulitan naik/turun anak tangga yang rata-rata memiliki tinggi 20 cm, ini terlalu tinggi bagi saya). Keberadaan ramp memudahkan saya, meski saya tidak memakai kursi roda dalam keseharian.
Dari awal saya sudah menanyakan pada petugas bandara tentang fasilitas kursi roda. Luasnya area bandara serta naik turun lantai membuat saya kecapekan kalau harus berjalan kaki. Dan tanggapan petugas cukup baik, mereka langsung menyatakan akan menyediakan kursi roda.
Dan dalam waktu beberapa menit seorang petugas datang membawa kursi roda untuk saya. Petugas tersebut juga menawarkan untuk mendorong kursi roda itu untuk saya. Jadi ibu saya yang saat itu mendampingi saya tidak perlu dibuat kerepotan lagi karenanya. Biasanya orang yang mendampingi saya akan dibuat kerepotan, karena selain harus mengurus barang bawaan yang kami bawa, dia juga harus mengurus saya.
Petugas yang mendorong kursi roda untuk saya tersebut dengan sabar menjelaskan proses-proses yang harus kami lalui dan menjawab pertanyaan saya tentang fasilitas yang diperoleh difabel di bandara ini. Dia mengantarkan kursi roda saya sampai di depan pesawat dan memastikan saya sampai di tempat duduk saya di pesawat. Saya dan Ibu adalah penumpang pertama yang menaiki pesawat, hmm rupanya manula dan difabel masuk pesawat paling awal dan turun paling akhir. Sebuah prosedur yang memudahkan bagi saya.
Ketika hendak turun, pramugari meminta saya untuk turun paling akhir sembari menunggu kursi roda yang telah dia pesankan untuk saya di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta itu. Benar saja, ketika saya melewati pintu saya melihat seorang petugas bandara telah menunggu saya di bawah dengan sebuah kursi roda. Petugas itu bahkan membantu saya menuruni tangga pesawat.
Area Bandara Adi Sucipto sebenarnya tidak terlalu luas, tidak seluas Bandara Soekarno Hatta. Jadi saya masih bisa berjalan kaki, namun tidak ada salahnya saya menikmati pelayanan yang telah disediakan untuk saya.
Ini untuk pertama kali saya menikmati bepergian menggunakan fasilitas umum tanpa harus dihantui rasa takut dan khawatir. Saya bisa menikmati perjalanan dengan nyaman, begitu juga dengan orang yang mendampingi saya. Bahkan saya merasa percaya diri suatu saat saya bisa pergi sendirian, tanpa harus ada teman/keluarga yang mendamping saya.
Namun di balik kenyamanan fasilitas yang saya dapatkan terbersit sebuah kegetiran yang saya rasakan. Semua fasilitas ini hanya bisa dinikmati oleh difabel yang punya uang. Lantas bagaimana dengan mayoritas difabel di Indonesia yang hidupnya masih berada di ambang kemiskinan?
Tentunya mereka masih berkutat dengan sopir yang dikejar waktu tanpa mempedulikan keselamatan penumpang, terminal/stasiun yang hiruk pikuk dengan desain bangunan yang sama sekali tidak bersahabat dengan difabel, petugas-petugas yang belum memiliki kepedulian akan hak-hak difabel (kalaupun ada masih sangat tergantung pada kepedulian di tingkat personal).
Atau bahkan lebih buruk lagi, ada sebagian difabel yang masih terkungkung dalam dunia sempitnya. Dikucilkan karena masih dianggap beban dan aib, sehingga bagi mereka dunia hanya seluas rumah mereka, kampung mereka ataupun kota mereka.
Dan saya bermimpi....
Pada suatu saat nanti, layanan publik yang aksesibel terhadap kebutuhan difabel ini tersebar dimana-mana. Bukan hanya milik kaum middle-up saja. Dan pemenuhan akan hak-hak difabel merupakan sebuah standar pelayanan, bukan hanya dalam bentuk pelayanan standar internasional saja. Kesadaran itu terbentuk secara luas dan bukan hanya terbatas di tingkat personal saja. Dan difabel bisa menikmati layanan publik sama nyamannya dengan orang yang bukan difabel.
Kapan itu????
Kamis, 23 April 2009
When I Saw The Rainbow
God it’s so beutifull
I don’t even realized before
Before you came into my life and coloring it,
And makes the sun shine brighter than yesterday
I never wanna lose all new things I had
I’m thankfull ‘coz I have you by my side….



